INBERITA.COM, Platform e-commerce Blibli dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 400 karyawan pada 23 Oktober 2025.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari restrukturisasi internal perusahaan, dengan divisi teknologi menjadi unit yang paling banyak terdampak.
Informasi mengenai PHK ini pertama kali mencuat melalui unggahan di media sosial dan telah dikonfirmasi oleh sumber internal Blibli yang meminta identitasnya dirahasiakan.
“Iya, valid (kabar pemangkasan karyawan),” ujar sumber tersebut pada Senin (27/10/2025).
Proses PHK disebut dilakukan melalui townhall meeting, di mana para karyawan yang terkena dampak dipanggil dan langsung diminta menyelesaikan seluruh urusan administratif.
“Pada hari itu dipanggil, langsung mengurus semua berkas-berkas dan laptop-laptop juga diambil, jadi sudah gak ada tanggung jawab (pekerjaan) lagi,” ungkap sumber tersebut.
Meskipun pihak internal tidak menyebutkan secara detail divisi apa saja yang terkena dampak, sumber lain menyebut bahwa tim teknologi menjadi yang paling banyak mengalami pengurangan, disusul oleh beberapa unit seperti komersial dan marketing.
Yang mengejutkan, gelombang PHK ini juga menyentuh posisi strategis, termasuk level Vice President (VP) yang selama ini dikenal sebagai jajaran manajemen menengah ke atas.
“Saya kurang tahu unit lain kena atau tidak, tapi mostly yang saya tahu itu divisi teknologi banyak yang kena,” tambah sumber tersebut.
PHK ini diketahui terutama berdampak pada karyawan di kantor pusat Jakarta, meski beberapa karyawan di cabang lain seperti Bandung juga ikut terkena imbasnya.
Tingkatan posisi karyawan yang terdampak cukup bervariasi, mulai dari level manajer hingga anggota tim.
Sumber internal menjelaskan bahwa restrukturisasi menjadi alasan utama di balik keputusan berat ini.
“Alasannya karena restrukturisasi,” ujarnya singkat.
Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari strategi efisiensi perusahaan untuk menghadapi dinamika industri e-commerce yang semakin kompetitif.
Restrukturisasi semacam ini bukan hal baru di dunia korporasi, terutama di sektor teknologi dan digital.
Banyak perusahaan mengambil langkah serupa untuk meningkatkan efisiensi operasional, menyederhanakan struktur organisasi, dan menyesuaikan fokus bisnis di tengah kondisi pasar yang berubah cepat.
Dalam industri e-commerce yang diwarnai persaingan ketat antar pemain besar, keputusan restrukturisasi kerap dianggap sebagai langkah strategis untuk mempertahankan daya saing dan profitabilitas jangka panjang.
Fenomena PHK massal di sektor teknologi dan startup sendiri bukan hal asing di Indonesia. Pada akhir 2022 lalu, gelombang serupa sempat melanda banyak perusahaan digital yang sebelumnya tumbuh pesat saat pandemi.
Banyak di antaranya terpaksa memangkas tenaga kerja setelah fase ekspansi besar-besaran yang tidak diimbangi dengan profitabilitas berkelanjutan — fenomena yang dikenal sebagai startup bubble burst.
Blibli tampaknya kini mengikuti pola yang sama, di mana setelah periode pertumbuhan dan ekspansi agresif, perusahaan melakukan penyesuaian organisasi untuk memastikan keberlangsungan bisnisnya tetap stabil.
Dalam konteks bisnis digital, restrukturisasi semacam ini sering dianggap langkah sulit namun perlu, terutama untuk mengoptimalkan sumber daya di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan perilaku konsumen.
Kendati demikian, sumber internal menyebut bahwa perusahaan tetap memberikan kompensasi dan benefit kepada karyawan yang terkena dampak PHK sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku.
Walau tidak dijelaskan secara detail besaran kompensasinya, pemberian hak-hak karyawan sesuai regulasi menjadi langkah penting bagi perusahaan untuk menjaga reputasi dan memastikan proses transisi berjalan dengan baik.
Pemberian kompensasi yang sesuai aturan juga menjadi salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan agar tidak menimbulkan polemik di publik.
Dalam beberapa kasus PHK di industri teknologi sebelumnya, banyak keluhan muncul terkait keterlambatan atau ketidakjelasan pembayaran pesangon.
Namun, dalam kasus Blibli, indikasi awal menunjukkan bahwa proses tersebut berjalan sesuai prosedur yang berlaku.
Gelombang PHK di sektor teknologi dan e-commerce kini menjadi tren global. Perusahaan-perusahaan besar dunia seperti Amazon, Meta, hingga Google juga pernah mengambil langkah serupa dalam beberapa tahun terakhir.
Di Indonesia, GoTo Group juga sempat melakukan PHK terhadap lebih dari 1.300 karyawan pada November 2022, setelah sebelumnya sempat menambah tenaga kerja di pertengahan tahun.
Keputusan semacam ini sering kali menjadi reaksi terhadap tekanan pasar, perubahan strategi bisnis, hingga upaya menyeimbangkan antara pertumbuhan dan efisiensi.
Dari sisi investor, keputusan restrukturisasi seperti yang dilakukan Blibli sering menimbulkan reaksi beragam di pasar modal.
Di satu sisi, PHK dapat dipandang sebagai langkah positif untuk memperbaiki efisiensi dan margin keuntungan. Namun di sisi lain, keputusan ini juga dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai arah pertumbuhan perusahaan ke depan.
Industri e-commerce Indonesia sendiri kini tengah memasuki fase transformasi besar. Setelah periode pertumbuhan pesat selama pandemi, perusahaan-perusahaan kini menghadapi tantangan baru berupa penurunan daya beli, perubahan perilaku konsumen, serta persaingan yang semakin tajam.
Pemain besar seperti Blibli, Tokopedia, Shopee, dan Lazada terus berlomba mencari model bisnis paling efisien untuk mempertahankan pangsa pasar.
Langkah restrukturisasi Blibli yang berujung pada PHK 400 karyawan ini menjadi sinyal bahwa era efisiensi kini benar-benar menjadi fokus utama perusahaan digital di Indonesia.
Meski pahit bagi para pekerja yang terdampak, keputusan ini bisa jadi merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga kelangsungan bisnis di tengah tekanan ekonomi dan kompetisi yang semakin ketat.
Dengan demikian, keputusan Blibli untuk memangkas ratusan karyawan bukan hanya persoalan internal perusahaan, tetapi juga mencerminkan perubahan besar dalam lanskap industri e-commerce nasional — sebuah realitas baru di mana efisiensi menjadi kunci bertahan di tengah persaingan global yang semakin kompleks. (xpr)