Bikin Emosi! Mitra SPPG Tana Toraja Malah Salahkan Siswa yang Keracunan MBG, “Sudah Tau Busuk Kenapa Dimakan?”

INBERITA.COM, Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa dan guru di Kabupaten Tana Toraja memicu perdebatan sengit antara pihak pengelola program dan keluarga korban.

Sebanyak 173 orang dari SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale harus dilarikan ke fasilitas kesehatan secara bertahap sejak Kamis. Mereka mengeluhkan gangguan pencernaan parah mulai dari mual, muntah, pusing, hingga diare setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis.

Satgas MBG Tana Toraja mencatat lonjakan pasien hingga Jumat pukul 20.30 Wita yang tersebar di tiga rumah sakit dan tiga puskesmas berbeda. Dan kondisi ini memaksa lembaga legislatif setempat menggelar rapat dengar pendapat guna meminta pertanggungjawaban dari para pengelola.

Namun pihak mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi justru menolak disalahkan sepenuhnya atas insiden kesehatan yang menimpa ratusan pelajar tersebut.

Pengelola SPPG Makale Batupapan 1 berdalih bahwa seluruh proses penyiapan makanan sudah mengikuti prosedur operasional baku yang ketat.

Mereka bahkan balik menyalahkan para korban karena tetap nekat menyantap makanan yang disajikan meski sudah tercium bau tidak sedap.

“Kami tidak bermaksud untuk membela diri sama sekali tapi saya menyampaikan tanggung jawab ini dengan kapasitas kami sebagai mitra bersama-sama dengan 3 orang BGN ya, termasuk dari yayasan kami melakukan SOP penentuan standar bahkan sudah berdiskusi dengan kepala SPPG,” kata Louice Cristiana dalam rapat bersama DPRD Tana Toraja pada Jumat.

Perwakilan Yayasan Magnolia Champaca Virginiana itu menjelaskan bahwa relawan di dapur umum telah bekerja secara profesional dan disiplin tinggi. Menu yang dibagikan terdiri dari ayam dimasak kuning, tempe digoreng tepung, tumis sayur berisi labu siam, wortel dan jagung, serta buah melon.

Sebelum didistribusikan ke sekolah, pihak pengelola mengklaim telah melibatkan penanggung jawab sekolah untuk memeriksa kualitas makanan secara langsung.

“PIC sekolah itu ada yang mana PIC ini harus menerima, jadi dengan tim distribusi kami, menerima, mencium, mencicipi menu-menu yang ada dalam ompreng itu, dipastikan tidak berbau, tidak busuk,” paparnya.

Namun pemeriksaan berlapis tersebut gagal mencegah jatuhnya ratusan korban yang mengalami gejala keracunan usai makan siang. Louice mengaku menerima informasi bahwa makanan yang dibagikan sebenarnya sudah berbau busuk sebelum dikonsumsi oleh para siswa.

“Itu yang terjadi, setelah itu baru kita distribusikan ke sekolah. Nah, ada berbagai informasi yang katanya mau makan sudah busuk, kalau sudah tahu bau, kenapa dimakan?” cetus Louice.

Meski melontarkan pembelaan tersebut, pihak yayasan tetap menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang diklaim berada di luar kendali mereka.

Pengelola berjanji akan melakukan pembenahan internal meski bersikeras bahwa standar operasional telah dijalankan dengan benar.

“Kami sangat memahami kondisi ini, kami ini betul-betul di luar kendali kami makanya kami siap salah, siap memperbaiki, mungkin membenahi ke dalam, walaupun memang kami sudah melakukan SOP,” jelasnya.

“Kami orang-orang yang berintegritas, berdisiplin tinggi dalam bekerja di dapur kami. Kembali lagi terkait kondisi ini saya sebagai mitra yayasan memohon maaf yang sebesar-besarnya, betul-betul di luar kendali kami,” papar Louice.

Laporan Satgas memperinci persebaran pasien yang mendatangi fasilitas medis di penjuru Tana Toraja. Sekda Tana Toraja Rudhy Andi Lolo memberikan keterangan resmi mengenai jumlah korban yang masih menjalani perawatan intensif.

“Total di RS, rawat inap 19 orang dan rawat jalan 146 orang,” ungkap Sekda Tana Toraja Rudhy Andi Lolo kepada wartawan, Sabtu.

Rincian pasien rawat inap dan jalan tersebar di RS Sinar Kasih, RSUD Lakipapada, serta RS Fatima dengan jumlah yang bervariasi. Delapan pasien tambahan juga sempat ditangani pada tiga puskesmas berbeda sebelum akhirnya diperbolehkan pulang untuk rawat jalan.

Rapat dengar pendapat yang dipimpin Ketua DPRD Tana Toraja Kendek Rante sempat berjalan alot akibat ketegangan antara legislator dan pengelola program.

Orang tua siswa yang hadir turut meluapkan kekecewaan mendalam atas kejadian yang membahayakan kesehatan anak-anak mereka di lingkungan sekolah.

Namun pihak yayasan meminta agar insiden ini tidak dijadikan ajang saling menuduh di antara pihak-pihak yang terlibat. Mereka mengajak semua elemen untuk fokus mencari jalan keluar terbaik demi keselamatan para siswa ke depan.

“Jangan saling mencari kesalahan, mari bersama-sama mencari solusi,” imbuh Louice.

Dewan perwakilan rakyat daerah masih terus mendalami alur distribusi dan penyiapan makanan dari dapur umum hingga sampai ke tangan para pelajar.

Pengawasan ketat terhadap program pemenuhan gizi ini diharapkan mampu mencegah terulangnya kasus serupa di wilayah Tana Toraja dan wilayah lainnya.