BI Catat Kenaikan Utang Luar Negeri Indonesia, Berikut Penjelasan dan Penggunaan Utangnya

INBERITA.COM, Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan IV-2025 tercatat sebesar US$ 431,7 miliar, atau sekitar Rp 7.298 triliun.

Angka ini menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan triwulan III-2025, yang tercatat sebesar US$ 427,6 miliar.

Kenaikan ULN Sektor Publik Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan utang luar negeri sektor publik, yang terus dikelola dengan prinsip kehati-hatian.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa meskipun terjadi peningkatan, struktur ULN Indonesia masih berada dalam kondisi sehat dan aman bagi stabilitas ekonomi negara.

“Struktur ULN Indonesia masih berada dalam kondisi sehat karena dikelola dengan prinsip kehati-hatian,” ujar Ramdan dalam keterangannya.

Pada triwulan IV-2025, rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat berada pada level 29,9 persen.

Meskipun terdapat kenaikan, angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih dapat mengelola utangnya dengan baik dan tidak membebani perekonomian secara berlebihan.

Porsi utang jangka panjang masih mendominasi, dengan kontribusi mencapai 85,7 persen dari total ULN. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas utang luar negeri Indonesia memiliki tenor yang panjang, yang dianggap lebih aman untuk stabilitas fiskal jangka panjang.

Secara rinci, utang pemerintah tercatat sebesar US$ 214,3 miliar, mengalami kenaikan dibandingkan dengan US$ 210,1 miliar pada triwulan sebelumnya.

Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh masuknya aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional, di mana kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ramdan Denny juga menjelaskan bahwa utang pemerintah tetap diarahkan sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk mendukung program-program prioritas dan menjaga keberlanjutan fiskal.

Beberapa sektor yang menjadi fokus utama penggunaan utang ini adalah sektor kesehatan, pendidikan, administrasi pemerintahan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan.

Sementara itu, Utang Luar Negeri sektor swasta justru mengalami penurunan, menjadi US$ 192,8 miliar pada triwulan IV-2025.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya utang yang dimiliki oleh perusahaan non-lembaga keuangan.

Berdasarkan sektor ekonomi, utang swasta terbesar berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian.

Dalam hal ini, utang swasta Indonesia juga masih didominasi oleh utang jangka panjang, yang mencakup 76,3 persen dari total utang sektor swasta.

Koordinasi Pemerintah dan BI untuk Memantau Struktur ULN Untuk memastikan struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia bersama dengan pemerintah terus memperkuat koordinasi pemantauan.

Pemerintah mengoptimalkan penggunaan utang luar negeri ini sebagai sumber pembiayaan pembangunan guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Ramdan Denny mengungkapkan, “ULN akan terus dioptimalkan sebagai sumber pembiayaan pembangunan, yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di masa depan.”

Posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada triwulan IV-2025 menunjukkan angka yang stabil meskipun ada kenaikan yang dipengaruhi oleh sektor publik.

Dengan struktur utang yang sehat dan mayoritas terdiri dari utang jangka panjang, Indonesia tetap berada dalam posisi yang aman untuk menjalankan pembangunan nasional.

Bank Indonesia dan pemerintah akan terus menjaga keseimbangan ini untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan di tengah tantangan global yang terus berubah.