INBERITA.COM, Asri Welas kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkap bahwa dirinya didatangi petugas pajak akibat pernyataan Baim Wong soal honorarium untuk perannya di film Sukma.
Pernyataan itu bermula dari unggahan Baim pada 22 September 2025 di Instagram, yang menyebut sang aktris dibayar Rp7 miliar hanya untuk dua adegan.
Dalam unggahan tersebut, Baim menulis komentar singkat namun bernada pujian, “Artis Rp7 miliar, enggak boleh nego. Mahal, tapi emang top,” disertai emoji jempol.
Ucapannya segera memancing respons luas karena menyinggung nilai honor yang dianggap sangat tinggi untuk porsi peran yang tidak besar.
Menurut Asri, unggahan Baim itu membawa dampak langsung. Ia mengaku rumahnya disambangi petugas pajak yang menanyakan soal pendapatan tersebut. Pengalaman itu ia bagikan dalam wawancara yang dikutip dari Selebrita Heits, Selasa (18/11/2025).
“Serius gue sampai didatangi orang pajak. Terus dikirim surat cinta yang isinya: ‘Mbak bayar pajaknya!’” ujar Asri dengan nada setengah bercanda, tetapi menunjukkan bahwa situasinya memang menyisakan kehebohan tersendiri bagi dirinya.
Aktris berusia 46 tahun itu tidak secara eksplisit membantah angka Rp7 miliar tersebut. Namun ia memberi sinyal bahwa nilai sebenarnya tidak sedrastis yang disebut Baim. Ia hanya menekankan bahwa bayaran yang diterimanya masih dalam batas wajar sesuai standar industri dan tanggung jawab peran yang ia jalankan.
“Bayarannya masih masuk akal lah. Terpenting, saya masih bisa terus berkarya. Aku berterima kasih banget kalau misalnya masih ada orang yang mau kasih aku kepercayaan untuk main di proyek mereka,” katanya.
Pernyataan ini menggambarkan sikap Asri yang cenderung ingin menenangkan suasana tanpa memperpanjang polemik soal nominal. Ia lebih menekankan bahwa kesempatan berkarya jauh lebih berarti dibanding sekadar angka di balik kontrak kerja.
Namun, persoalan menjadi lebih ramai karena pernyataan Baim beberapa bulan sebelumnya.
Pada September lalu, ia mengungkap bahwa Asri sempat mengajukan honor USD1 juta—setara Rp15 miliar—untuk memerankan karakter bernama Luluk. Ia mengklaim “membawa turun” angka tersebut menjadi Rp7 miliar usai proses negosiasi.
“Mahal banget bayarannya! Dia (Asri Welas) minta USD1 juta hanya untuk dua scene doang. USD1 juta itu Rp15 miliar, gila! Setelah nego-nego dapat di angka Rp7 miliar,” kata Baim saat itu.
Ungkapan Baim tersebut yang kemudian menjadi sumber polemik karena mencantumkan angka-angka besar tanpa konteks proses produksi film Sukma, sekaligus memunculkan pertanyaan publik tentang besaran honor para pemain film Indonesia.
Ketika ucapannya viral, sebagian warganet menilai Baim sedang berkelakar, namun sebagian lain menganggap pernyataan tersebut bisa berdampak serius terhadap artis yang disebutkan—dan dalam kasus ini, terbukti memicu perhatian dari otoritas perpajakan.
Keterangan Asri bahwa ia didatangi petugas pajak menambah lapisan baru pada perbincangan tersebut.
Meski disampaikan dengan nada santai, pernyataan itu menunjukkan bahwa isu honorarium publik figur sering kali berkaitan dengan kewajiban administratif yang sensitif.
Apalagi ketika disebutkan secara terbuka, angka tersebut dapat menimbulkan penilaian yang jauh lebih luas, baik dari publik maupun institusi resmi.
Dalam konteks hubungan profesional di industri film, perbedaan versi mengenai negosiasi honor bukan hal baru. Namun, ketika disampaikan di ruang publik, perbedaan itu mudah berkembang menjadi isu lain.
Pernyataan Baim yang menyebut permintaan Rp15 miliar, kemudian negosiasi ke Rp7 miliar, serta unggahannya yang menegaskan nilai tersebut, menciptakan gambaran yang membingungkan mengenai besaran honor yang sebenarnya diterima Asri.
Sementara itu, respons Asri justru menunjukkan kehati-hatian. Ia menegaskan bahwa yang terpenting baginya adalah bisa tetap bekerja dan mendapatkan kepercayaan dari para pembuat film.
Sikap tersebut dapat dibaca sebagai upaya menjaga profesionalisme sekaligus menghindari penguatan spekulasi mengenai nominal yang disebutkan Baim.
Dari rangkaian pernyataan yang ada, tampak jelas bahwa situasi ini bermula dari komentar ringan namun mengandung angka besar yang akhirnya menimbulkan konsekuensi nyata.
Kehadiran petugas pajak yang disebut Asri menjadi bukti bahwa isu honor artis tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga menyangkut aspek kewajiban yang diatur dalam hukum perpajakan.
Hingga kini, baik Baim maupun Asri belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai angka yang sebenarnya.
Namun narasi yang berkembang sudah memberi gambaran bahwa transparansi soal honor artis tetap menjadi isu sensitif dalam industri hiburan.
Ketika satu pernyataan viral, dampaknya bisa meluas ke ranah pribadi, profesional, hingga administratif.
Kasus ini juga memperlihatkan bahwa media sosial semakin menjadi ruang yang menuntut kehati-hatian.
Unggahan yang dianggap sekadar candaan atau promo dapat membawa dampak tak terduga bagi pihak yang disebutkan. Dalam kasus Asri Welas, dampak itu bahkan sampai ke pintu rumahnya dalam bentuk kunjungan petugas pajak.
Meski demikian, Asri tetap menutup pernyataannya dengan nada positif, menegaskan bahwa ia bersyukur masih mendapat kesempatan berkarya di dunia film. (xpr)