AS Sebut Telah Hancurkan 11 Kapal Iran di Teluk Oman, Trump Sebut Armada Kapal Iran Jadi Nol

INBERITA.COM, Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase baru setelah United States Central Command (CENTCOM) mengumumkan klaim dramatis terkait kekuatan laut Iran.

Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui platform X pada Senin (2/3/2026), militer Amerika Serikat menyebut seluruh armada kapal Iran di Teluk Oman telah dihancurkan.

Pernyataan tersebut sontak memicu perhatian global, mengingat Teluk Oman merupakan jalur strategis yang terhubung langsung dengan Selat Hormuz, salah satu choke point energi terpenting dunia. Eskalasi ini mempertegas bahwa konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel telah bergerak ke level yang lebih terbuka.

“Dua hari lalu, rezim Iran memiliki 11 kapal di Teluk Oman. Hari ini, mereka memiliki nol,” tulis pernyataan resmi CENTCOM.

Klaim tersebut menegaskan bahwa dalam kurun waktu singkat, kekuatan maritim Teheran di wilayah itu disebut telah dilumpuhkan sepenuhnya.

CENTCOM juga menuding Iran selama beberapa dekade terakhir melakukan gangguan terhadap pelayaran internasional di kawasan tersebut. Dengan operasi militer terbaru ini, Washington menyatakan komitmennya untuk memastikan kebebasan navigasi tetap terjaga.

“Masa-masa itu (gangguan maritim) telah berakhir,” lanjut pernyataan tersebut.

Klaim dari CENTCOM diperkuat oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sehari sebelumnya mengungkap detail tambahan. Ia menyebut antara sembilan hingga sepuluh kapal angkatan laut Iran telah ditenggelamkan dalam operasi gabungan tersebut.

Trump menggambarkan beberapa kapal yang dihancurkan sebagai unit yang “relatif besar dan penting”. Selain itu, ia menyatakan bahwa markas besar angkatan laut Iran disebut telah mengalami kerusakan besar akibat serangan udara dan laut presisi tinggi.

Operasi militer ini dilaporkan merupakan bagian dari kampanye gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai sejak Sabtu (28/2/2026). Serangan terkoordinasi tersebut disebut menargetkan berbagai aset strategis militer Iran, termasuk infrastruktur komando.

Dalam perkembangan yang lebih mengejutkan, laporan operasi itu juga menyebutkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Namun hingga saat ini belum terdapat konfirmasi resmi dari Teheran terkait kabar tersebut.

Di sisi lain, pemerintah Iran belum memberikan pernyataan terbuka mengenai total kerugian armada lautnya di Teluk Oman. Minimnya konfirmasi dari Teheran membuat situasi dipenuhi spekulasi dan klaim yang saling bertolak belakang.

Meski demikian, Iran dilaporkan telah melancarkan serangan balasan dalam bentuk gelombang drone dan rudal. Target serangan disebut menyasar sejumlah negara di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan atau aset militer Amerika Serikat.

Langkah balasan tersebut memperluas potensi konflik regional, terutama bagi negara-negara yang berada di sekitar Teluk Oman dan Selat Hormuz. Kawasan ini memegang peranan vital dalam distribusi energi global, sehingga setiap gangguan keamanan berpotensi memengaruhi stabilitas harga minyak dunia.

Status keamanan di Teluk Oman dilaporkan berada pada tingkat siaga tertinggi. Jalur pelayaran komersial dan tanker energi kini berada di bawah pengawasan ketat, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan internasional.

Sejumlah analis militer menilai, jika klaim penghancuran 11 kapal Iran benar adanya, maka peta kekuatan laut di sekitar Selat Hormuz akan berubah signifikan.

Iran selama ini dikenal mengandalkan armada kapal cepat dan taktik asimetris untuk mengontrol dinamika keamanan maritim di wilayah tersebut.

Namun di balik perubahan keseimbangan kekuatan itu, risiko perang terbuka berskala lebih luas kini semakin nyata. Keterlibatan langsung Amerika Serikat dan Israel dalam operasi militer besar-besaran menempatkan kawasan Timur Tengah di ambang eskalasi yang sulit diprediksi.

Ketidakpastian juga membayangi stabilitas politik regional. Jika laporan mengenai tewasnya Ali Khamenei terbukti benar, maka Iran berpotensi memasuki fase transisi kepemimpinan yang sensitif, dengan implikasi besar terhadap kebijakan luar negeri dan strategi militernya.

Di tengah klaim dan serangan balasan yang terus berlangsung, dunia kini menanti langkah berikutnya dari Teheran maupun Washington. Teluk Oman yang sebelumnya menjadi arena ketegangan maritim kini berubah menjadi simbol babak baru konflik terbuka.

Eskalasi di jalur strategis ini bukan hanya soal dominasi militer, tetapi juga menyangkut keamanan energi global dan stabilitas ekonomi internasional. Dengan situasi yang terus berkembang, perhatian komunitas internasional tertuju pada bagaimana konflik ini akan membentuk ulang dinamika geopolitik kawasan.