INBERITA.COM, Langkah militer Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah laporan menyebutkan bahwa Washington mulai memindahkan sebagian sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD dari Korea Selatan ke kawasan Timur Tengah.
Keputusan tersebut menimbulkan kekhawatiran di Seoul karena sistem ini selama ini menjadi komponen penting dalam pertahanan terhadap ancaman rudal dari Korea Utara.
Informasi mengenai pemindahan sistem pertahanan ini pertama kali dilaporkan oleh media Amerika Serikat, The Washington Post, yang mengutip sejumlah pejabat militer AS.
Laporan tersebut kemudian diperkuat oleh media Korea Selatan seperti Yonhap News Agency dan Seoul Broadcasting System, yang menyebut bahwa beberapa peluncur THAAD telah dipindahkan dari pangkalan udara Seongju di selatan Seoul.
Pemindahan tersebut terjadi sekitar 12 hari setelah pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Dalam eskalasi konflik tersebut, Iran dilaporkan meluncurkan ratusan drone dan rudal balistik yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat serta Israel di berbagai wilayah Timur Tengah.
Sistem THAAD sendiri merupakan salah satu teknologi pertahanan rudal paling canggih yang dimiliki Amerika Serikat. Sistem ini dirancang untuk mencegat rudal balistik jarak pendek hingga menengah di ketinggian tinggi, bahkan di luar atmosfer bumi.
Teknologi THAAD menggunakan metode yang dikenal sebagai “hit-to-kill”, yaitu menghancurkan rudal musuh dengan energi kinetik tanpa menggunakan bahan peledak.
Dengan teknologi tersebut, rudal pencegat dapat menghantam langsung targetnya di udara dan menghancurkannya sebelum mencapai sasaran di darat.
Satu unit sistem THAAD terdiri dari radar berteknologi tinggi, enam peluncur rudal, serta delapan rudal pencegat pada setiap peluncur. Sistem ini dikembangkan oleh perusahaan pertahanan Amerika Serikat, Lockheed Martin, dengan nilai sekitar 1 miliar dolar AS untuk satu baterai lengkap.
Untuk mengoperasikan satu sistem THAAD, diperlukan sekitar 100 personel militer. Hingga saat ini, Amerika Serikat diketahui hanya memiliki delapan sistem THAAD yang ditempatkan di berbagai wilayah strategis dunia.
Beberapa di antaranya berada di kawasan Timur Tengah, termasuk di Yordania dan Israel, sementara sejumlah lainnya ditempatkan di Korea Selatan sebagai bagian dari strategi pertahanan menghadapi ancaman rudal dari Korea Utara.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, mengakui bahwa pemerintahnya telah menyampaikan keberatan atas rencana pemindahan sistem tersebut.
Namun ia juga menegaskan bahwa Seoul tidak sepenuhnya memiliki kewenangan untuk memaksakan sikap terhadap keputusan militer Amerika Serikat.
Menurut sejumlah analis keamanan, keputusan Washington memindahkan sebagian sistem THAAD menunjukkan bahwa Amerika Serikat sedang berupaya memperkuat pertahanan udara di Timur Tengah.
Hal ini dinilai penting mengingat intensitas serangan rudal dan drone yang diluncurkan Iran dalam konflik yang sedang berlangsung.
Sebelumnya bahkan dilaporkan bahwa salah satu serangan Iran berhasil merusak radar penting dari sistem THAAD di Yordania.
Radar tersebut diperkirakan memiliki nilai sekitar 300 juta dolar AS, sehingga kerusakan tersebut dianggap sebagai pukulan serius bagi sistem pertahanan rudal di kawasan tersebut.
Di sisi lain, pemindahan sistem THAAD dari Korea Selatan juga berpotensi memicu perhatian dari China. Sejak awal, Beijing telah menentang penempatan sistem THAAD di Korea Selatan pada tahun 2017.
Pemerintah China menilai radar canggih yang digunakan dalam sistem THAAD mampu memantau aktivitas militer hingga ke wilayah mereka. Oleh karena itu, Beijing menganggap keberadaan sistem tersebut dapat mengganggu keseimbangan keamanan di kawasan Asia Timur.
Para pengamat keamanan internasional menilai keputusan Amerika Serikat untuk memindahkan sebagian sistem THAAD bisa membawa dampak yang lebih luas terhadap stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Jika sistem pertahanan yang sebelumnya ditempatkan di Korea Selatan berkurang, maka potensi kerentanan terhadap ancaman rudal dari Korea Utara juga dapat meningkat. Kondisi ini berpotensi menciptakan dinamika baru dalam hubungan keamanan di kawasan tersebut.
Selain itu, konflik berkepanjangan di Timur Tengah juga memunculkan kekhawatiran lain. Sejumlah analis menilai bahwa keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik besar berpotensi menguras persediaan sistem pertahanan rudal mereka.
Apabila persediaan sistem seperti THAAD semakin terbatas akibat digunakan di berbagai konflik, hal ini bisa menyulitkan Washington dalam merespons krisis keamanan di kawasan lain secara cepat.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kawasan tersebut, tetapi juga berpotensi memengaruhi keseimbangan militer di wilayah lain di dunia, termasuk Indo-Pasifik.