INBERITA.COM, Amerika Serikat dilaporkan telah mengajukan proposal kepada Iran sebagai upaya untuk mengakhiri konflik yang tengah berlangsung di kawasan Teluk.
Proposal tersebut, yang terdiri dari 15 poin, diajukan di tengah eskalasi ketegangan antara kedua negara yang semakin meningkat sejak beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, pemimpin tertinggi Iran, telah mengungkapkan tiga tuntutan keras yang menjadi syarat utama bagi Iran untuk mengakhiri ketegangan tersebut.
Khamenei menegaskan bahwa Iran menuntut penarikan pasukan Amerika dari Timur Tengah, pencabutan sanksi dalam waktu 60 hari, serta kompensasi finansial atas kerugian ekonomi yang dialami oleh Iran akibat sanksi internasional yang telah diberlakukan selama bertahun-tahun.
Khamenei bahkan memberikan ancaman keras jika tuntutannya ini diabaikan.
“Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, kami tidak akan ragu untuk meningkatkan eskalasi, baik dari sisi ekonomi maupun militer,” katanya dalam sebuah pidato yang disiarkan pada awal pekan lalu.
Dalam pidato yang sama, ia juga menegaskan bahwa Iran akan secara resmi mengadopsi kebijakan pengembangan senjata nuklir, mengakhiri ambiguitas yang selama ini dipertahankan mengenai program nuklirnya.
Khamenei juga mengancam akan menutup total Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak yang sangat vital di dunia.
Penutupan Selat Hormuz akan menyebabkan dampak besar pada pasokan minyak global dan merugikan perekonomian dunia secara keseluruhan. Ancaman ini jelas menambah ketegangan antara Iran dan AS serta negara-negara sekutu Barat lainnya.
Menghadapi ancaman tersebut, Amerika Serikat akhirnya mengajukan proposal yang berisi beberapa poin penting. Proposal tersebut pertama kali dilaporkan oleh The New York Times pada Selasa (24/3/2026).
Berdasarkan laporan itu, AS meminta Iran untuk membatasi ketat program nuklir mereka, dengan tujuan untuk mencegah pengembangan senjata nuklir lebih lanjut. Salah satu poin utama dalam proposal itu adalah penghentian pengayaan uranium di wilayah Iran.
“Proposal ini mencakup permintaan kepada Iran untuk menyerahkan seluruh material uranium yang telah diperkaya, yang dikhawatirkan dapat digunakan untuk pengembangan senjata nuklir,” kata seorang pejabat senior AS yang meminta anonimitas.
Selain itu, AS juga meminta Iran untuk membuka akses penuh dan tanpa hambatan di Selat Hormuz, yang saat ini telah terblokir sebagian oleh tindakan Iran.
Blokade parsial yang diterapkan oleh Iran telah menyebabkan lonjakan harga energi global, yang tentunya memengaruhi kestabilan ekonomi dunia. Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, pasokan minyak dunia yang melintasi jalur tersebut dapat dipulihkan.
Sebagai imbalan atas langkah-langkah tersebut, Iran dilaporkan akan mendapatkan pencabutan sanksi yang selama ini dikenakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
Selain itu, negara itu juga akan menerima bantuan internasional dalam pengembangan energi nuklir sipil, termasuk dalam pembangunan fasilitas nuklir di Bushehr, yang selama ini menjadi salah satu pusat pengembangan energi nuklir Iran.
Namun, satu hal yang cukup menonjol dalam proposal ini adalah tidak adanya pembicaraan terkait perubahan rezim di Iran.
Sementara itu, laporan dari media Israel, Channel 12, menyebutkan bahwa AS dan Iran berencana untuk menyepakati gencatan senjata selama satu bulan.
Masa tersebut akan digunakan oleh kedua belah pihak untuk melakukan negosiasi lebih lanjut mengenai proposal yang telah diajukan. Jika gencatan senjata ini disepakati, hal ini bisa menjadi langkah awal untuk mencapai solusi damai yang lebih permanen.
Namun, banyak yang meragukan apakah Iran akan memenuhi persyaratan yang diminta oleh Amerika Serikat, mengingat sejarah ketegangan yang panjang antara kedua negara.
Penghentian program nuklir dan akses penuh ke Selat Hormuz adalah dua isu yang sangat sensitif bagi Iran, dan tidak mudah untuk mencapai kesepakatan mengenai hal-hal tersebut.
Hingga saat ini, Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat belum memberikan komentar resmi mengenai laporan ini.
Tetapi, jika proposal ini diterima dan diterapkan, ini bisa menjadi titik balik penting dalam hubungan internasional di kawasan Teluk, serta membuka peluang bagi perdamaian yang lebih stabil di masa depan.
Dengan ketegangan yang terus meningkat di Teluk, perhatian dunia kini tertuju pada bagaimana kedua negara besar ini akan menyikapi proposal tersebut.
Setiap langkah yang diambil akan berpengaruh besar, baik bagi masa depan Iran maupun kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.