Amerika dan Arab Saudi Serang Milisi Pro-Iran di Irak, Balas Serangan Drone ke Fasilitas Minyak

INBERITA.COM, Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan operasi militer gabungan terhadap kelompok milisi yang didukung Iran di wilayah Irak.

Langkah tersebut menandai eskalasi baru di tengah upaya diplomasi yang sebelumnya diharapkan mampu meredakan konflik di kawasan.

Operasi yang berlangsung pada Rabu (30/7/2026) itu disebut sebagai respons atas serangkaian serangan drone yang dalam beberapa hari terakhir mengarah ke fasilitas minyak Arab Saudi.

Serangan terhadap infrastruktur energi tersebut dinilai mengancam stabilitas pasokan energi sekaligus memperbesar risiko konflik regional.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan gabungan menyasar sejumlah gudang persenjataan dan fasilitas logistik milik kelompok milisi pro-Iran di Irak bagian timur.

Menurut CENTCOM, lebih dari 30 drone diluncurkan dari wilayah Irak menuju infrastruktur energi Arab Saudi dalam kurun 72 jam terakhir. Operasi militer tersebut diklaim sebagai bentuk respons terhadap ancaman yang terus berulang.

“Seluruh serangan yang tidak dapat dibenarkan terhadap pasukan Amerika Serikat tersebut gagal mencapai tujuannya,” demikian pernyataan CENTCOM.

Serangan ini menjadi operasi militer pertama Washington sejak diberlakukannya jeda lima hari terhadap serangan langsung ke Iran.

Sebelumnya, Amerika Serikat menghentikan sementara operasi ofensif setelah berlangsung 13 malam berturut-turut, guna memberi ruang bagi proses diplomasi dan pembahasan gencatan senjata.

Namun, meningkatnya serangan drone terhadap fasilitas strategis Arab Saudi membuat situasi kembali berubah. Pemerintah Riyadh mengonfirmasi keterlibatan militernya dalam operasi bersama tersebut.

“Operasi ini merupakan serangan yang tepat sasaran terhadap ancaman yang membahayakan keamanan kawasan,” demikian pernyataan resmi pemerintah Arab Saudi.

Di pihak lain, kelompok Popular Mobilization Forces (PMF) yang memiliki kedekatan dengan Iran mengakui salah satu markas operasinya di wilayah Basra menjadi sasaran serangan sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

Media pemerintah Irak melaporkan sedikitnya dua anggota PMF mengalami luka-luka. Hingga kini kelompok tersebut belum secara resmi menyebut siapa pihak yang bertanggung jawab, sementara proses pemeriksaan lokasi dan pendataan kerusakan masih berlangsung.

Sebelumnya, Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah drone yang mengarah ke fasilitas minyak di Provinsi Timur dan kawasan Riyadh.

Meski demikian, otoritas belum memastikan apakah seluruh drone berhasil dihancurkan sebelum mencapai sasaran.

Data CENTCOM menunjukkan eskalasi konflik di Irak terus meningkat sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.

Hingga gencatan senjata diumumkan pada April, kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran disebut telah melancarkan lebih dari 600 percobaan serangan terhadap personel dan aset militer Amerika Serikat di kawasan.

Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa meski jalur diplomasi masih terbuka, situasi keamanan di Timur Tengah tetap rapuh.

Serangan balasan dan aksi saling menyerang antara berbagai pihak berpotensi memperbesar risiko konflik yang lebih luas, sekaligus menambah ketidakpastian terhadap keamanan jalur energi global dan stabilitas kawasan.