5 Tewas dan Puluhan Luka, Serangan AS Menyasar ke Warga yang Sedang Merayakan Pernikahan di Iran

INBERITA.COM, Pemerintah Iran mengutuk keras serangan udara Amerika Serikat terhadap sebuah rumah warga di Desa Kuhestak, Kecamatan Sirik, Provinsi Hormozgan.

Laporan resmi menyebut setidaknya 5 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan yang terjadi saat sebuah keluarga merayakan acara pernikahan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyampaikan kecaman melalui akun X pada Rabu dini hari tanggal 2 September 2026. Ia menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari pola serangan AS yang menargetkan warga sipil di Iran.

Menurut Baqaei, serangan terjadi ketika keluarga sedang berkumpul merayakan pernikahan. Ia menyebut korban terdiri atas pria, wanita, dan anak-anak yang tidak terlibat dalam aktivitas militer.

“Amerika Serikat telah melengkapi daftar kekejamannya terhadap rakyat Iran. Sebuah rumah warga di Kuhestak, Sirik, diserang secara brutal ketika keluarga sedang merayakan pernikahan,” kata Baqaei.

Baqaei menegaskan serangan di Kuhestak tidak berdiri sendiri. Ia menghubungkannya dengan serangkaian serangan sebelumnya di wilayah Minab, Lamerd, Qeshm, dan lokasi lainnya.

Ia menuding AS memberikan pembenaran yang menyesatkan terhadap serangan terhadap target militer Iran.

Lebih dari sekadar serangan fisik, Baqaei menyoroti dampak psikologis yang lebih berbahaya. Ia memperingatkan bahwa normalisasi kekerasan terhadap warga sipil dapat melahirkan legitimasi baru bagi tindakan semacam itu.

“Yang lebih berbahaya daripada bom itu sendiri adalah normalisasi pengeboman. Lebih berbahaya daripada keheningan adalah ketika keheningan berubah menjadi legitimasi,” ujarnya.

Iran berjanji akan memberikan respons tegas terhadap apa yang disebut kejahatan terhadap warga sipil. Baqaei menegaskan negaranya tidak akan membiarkan pelanggaran hukum internasional dibiarkan tanpa konsekuensi.

“Iran akan merespons kejahatan-kejahatan biadab ini dengan tegas,” kata dia.

Ia juga memperingatkan negara dan lembaga internasional yang memilih diam atau membenarkan serangan tersebut. Menurut Baqaei, sikap pasif justru memperkuat perilaku agresif pelaku.

“Berpaling dari ketidakadilan tidak akan menghentikannya. Sikap itu hanya akan membuat para pelaku semakin berani,” kata Baqaei.

Baqaei menekankan bahwa pembiaran terhadap serangan semacam itu menghapus batas antara kecaman dan penerimaan terhadap kejahatan.

Ia mendesak komunitas internasional untuk mengambil sikap tegas demi mencegah eskalasi lebih lanjut.