Xi Jinping Datangi Korea Utara, Ada Kekhawatiran China atas Kedekatan Kim Jong Un dengan Rusia?

INBERITA.COM, Keputusan Presiden China Xi Jinping melakukan kunjungan langsung ke Korea Utara menjadi sinyal kuat bahwa Beijing sedang menghadapi tantangan baru dalam menjaga pengaruhnya terhadap salah satu sekutu paling dekatnya.

Di tengah perubahan lanskap geopolitik Asia Timur dan semakin eratnya hubungan Pyongyang dengan Moskow, perjalanan Xi ke ibu kota Korea Utara bukan sekadar kunjungan diplomatik biasa.

Pada Senin (8/6/2026), Xi Jinping tiba di Pyongyang untuk bertemu langsung dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Kunjungan tersebut langsung menarik perhatian dunia karena terjadi pada saat Xi dikenal semakin jarang melakukan perjalanan ke luar negeri dibandingkan masa-masa awal kepemimpinannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pemimpin dunia justru datang ke Beijing untuk bertemu Xi. Mulai dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga Presiden Rusia Vladimir Putin lebih sering menjadi tamu di China dibanding Xi melakukan kunjungan balasan ke negara mereka.

Karena itu, keputusan Xi terbang ke Pyongyang dinilai memiliki makna strategis yang jauh lebih besar dibanding sekadar agenda hubungan bilateral rutin.

Analis Asia Timur Laut dari Crisis Group, William Yang, menilai langkah Xi menunjukkan tingkat kepentingan yang sangat tinggi yang diberikan Beijing terhadap hubungan dengan Korea Utara saat ini.

“Kita perlu mengingat bahwa Xi Jinping sebenarnya tidak terlalu sering bepergian ke luar negeri,” kata Yang kepada awak media.

Menurutnya, tren yang berkembang selama beberapa tahun terakhir memperlihatkan para pemimpin asing lebih sering datang ke Beijing untuk menemui Xi. Karena itu, keputusan Presiden China untuk mendatangi Pyongyang secara langsung dianggap sebagai pesan politik yang kuat.

“Untuk Xi Jinping menjadi pihak yang memutuskan bepergian ke Pyongyang, hal itu menunjukkan tingkat signifikansi yang diberikan China terhadap perjalanan ini,” ujarnya.

Data yang dihimpun berbagai lembaga internasional menunjukkan perubahan pola diplomasi Xi cukup drastis.

Jika pada periode 2013 hingga 2019 ia rata-rata melakukan sekitar 14 kunjungan luar negeri setiap tahun, angka tersebut turun menjadi sekitar enam perjalanan per tahun sejak 2022 hingga 2025.

Bahkan pada masa pandemi, Xi hampir sepenuhnya menghentikan aktivitas diplomasi luar negeri. Situasi itulah yang membuat kunjungannya ke Korea Utara kali ini menjadi perhatian besar.

Di balik kunjungan tersebut, sejumlah pengamat menilai ada kekhawatiran yang semakin besar di Beijing mengenai kedekatan hubungan antara Korea Utara dan Rusia.

Selama puluhan tahun, China merupakan mitra ekonomi dan politik utama bagi Pyongyang. Sebagian besar aktivitas perdagangan Korea Utara bergantung pada China.

Ketergantungan itu membuat Beijing memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kebijakan Kim Jong Un. Namun keseimbangan tersebut mulai berubah sejak perang Rusia-Ukraina pecah pada 2022.

Ketika Rusia menghadapi tekanan besar dari Barat, Korea Utara muncul sebagai salah satu mitra penting bagi Moskow. Pyongyang disebut memasok berbagai kebutuhan militer, mulai dari amunisi artileri, rudal, hingga personel yang membantu operasi Rusia.

Hubungan yang semakin erat itu diyakini membawa keuntungan ekonomi dan teknologi yang signifikan bagi Korea Utara.

Lembaga penelitian keamanan Korea Selatan memperkirakan nilai kompensasi yang diterima Pyongyang dari kerja sama tersebut mencapai miliaran dolar AS.

Selain pembayaran dalam bentuk barang, para analis menduga Korea Utara juga memperoleh akses terhadap teknologi militer sensitif yang selama ini sulit mereka dapatkan. Inilah yang memunculkan kekhawatiran baru di Beijing.

China memang memiliki hubungan pertahanan dengan Korea Utara, tetapi bukan berarti Beijing menginginkan tetangganya itu menjadi kekuatan militer yang semakin mandiri dan sulit dikendalikan.

Menurut William Yang, China selama ini sangat berhati-hati dalam memberikan bantuan militer kepada Pyongyang. Alasannya sederhana, Beijing tidak melihat Korea Utara yang terlalu kuat secara militer sebagai keuntungan strategis.

“Beijing selalu sangat berhati-hati dalam memberikan bantuan militer kepada Korea Utara karena mereka tidak melihat Korea Utara yang lebih kuat secara militer sebagai sesuatu yang menguntungkan bagi mereka,” katanya.

Kekhawatiran tersebut semakin relevan setelah Korea Utara meningkatkan aktivitas militernya sepanjang tahun ini. Dalam beberapa bulan terakhir, Pyongyang dilaporkan telah melakukan sejumlah uji coba rudal serta memperkenalkan teknologi persenjataan baru.

Laporan media pemerintah Korea Utara bahkan menunjukkan pengembangan sistem rudal yang menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Di saat yang sama, Kim Jong Un juga memperlihatkan fasilitas baru yang diklaim akan mempercepat produksi material nuklir tingkat senjata.

Bagi China, perkembangan tersebut berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Semenanjung Korea dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas.

Selain faktor Rusia, kunjungan Xi juga diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya dinamika keamanan di kawasan Asia Timur. Hubungan Korea Selatan dan Jepang yang semakin erat dalam bidang pertahanan menjadi salah satu perhatian utama Beijing.

Belakangan muncul pembahasan mengenai kemungkinan kerja sama logistik militer yang lebih intens antara Seoul dan Tokyo. Bagi China, penguatan koordinasi keamanan dua sekutu utama Amerika Serikat tersebut dapat mengubah konfigurasi strategis kawasan.

Di sisi lain, Korea Selatan berharap China dapat memainkan peran lebih aktif dalam meredakan ketegangan dengan Korea Utara. Hubungan antar-Korea terus memburuk sejak Kim Jong Un meninggalkan agenda penyatuan Semenanjung Korea dan memperkeras sikap terhadap Seoul.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan bahkan menyatakan harapan agar kunjungan Xi dapat memberikan kontribusi positif bagi stabilitas kawasan dan membantu membuka kembali jalur komunikasi yang selama ini nyaris terhenti.

Pada akhirnya, perjalanan Xi Jinping ke Pyongyang mencerminkan satu realitas baru: Korea Utara tidak lagi sepenuhnya berada dalam orbit pengaruh China seperti satu dekade lalu.

Dengan Rusia yang semakin aktif menjalin kerja sama strategis dengan Pyongyang, Beijing kini menghadapi tantangan untuk mempertahankan posisinya sebagai mitra utama sekaligus penjaga keseimbangan di Semenanjung Korea.

Di tengah rivalitas global yang semakin kompleks, pertemuan Xi dan Kim kemungkinan bukan hanya membahas hubungan bilateral, melainkan juga masa depan arsitektur keamanan Asia Timur yang sedang mengalami perubahan besar.