INBERITA.COM, Keraguan terhadap kekuatan militer Amerika Serikat dalam menghadapi Iran mulai mencuat dari lingkaran dalam pemerintahan sendiri.
Wakil Presiden AS, J.D. Vance, dilaporkan secara diam-diam mempertanyakan optimisme yang selama ini disampaikan oleh Pentagon terkait jalannya konflik dengan Iran.
Laporan tersebut diungkap oleh The Atlantic yang mengutip dua pejabat tinggi AS. Disebutkan bahwa Vance berulang kali menantang narasi resmi Departemen Pertahanan dalam rapat tertutup, khususnya terkait gambaran kekuatan militer dan keberlangsungan perang yang dimulai sejak akhir Februari lalu.
Dalam forum internal tersebut, Vance menyuarakan kekhawatiran serius mengenai kondisi persenjataan Amerika Serikat. Ia menilai ada kecenderungan Pentagon meremehkan fakta bahwa cadangan rudal dan amunisi strategis mulai menipis akibat intensitas konflik yang tinggi.
Menurut sumber yang mengetahui jalannya pembahasan, Vance bahkan mempertanyakan keakuratan sejumlah pengarahan resmi yang diberikan kepada Presiden Donald Trump.
Ia juga disebut telah memperingatkan secara langsung mengenai potensi kekurangan dalam sistem persenjataan utama yang bisa berdampak pada kesiapan tempur AS.
Kondisi ini dinilai memiliki implikasi luas. Menipisnya stok senjata tidak hanya berdampak pada konflik dengan Iran, tetapi juga berpotensi melemahkan kemampuan Washington dalam menghadapi ketegangan di kawasan lain seperti Asia Timur dan Eropa.
Di sisi lain, pernyataan resmi dari pejabat tinggi pertahanan tetap menunjukkan sikap optimistis.
Menteri Perang Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine secara terbuka menyatakan bahwa persediaan senjata masih dalam kondisi kuat. Mereka juga mengklaim bahwa Iran telah mengalami kerugian signifikan selama konflik berlangsung.
Namun, laporan intelijen internal justru menggambarkan situasi yang berbeda. Sumber yang mengetahui penilaian rahasia menyebutkan bahwa Iran masih mempertahankan sekitar dua pertiga kekuatan udaranya.
Selain itu, sebagian besar infrastruktur peluncur rudal tetap utuh, termasuk armada kapal cepat yang memiliki kemampuan operasional tinggi di Selat Hormuz.
Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa klaim dominasi udara oleh pihak AS tidak sepenuhnya akurat. Dalam beberapa insiden, pasukan Iran dilaporkan berhasil menembak jatuh sejumlah jet tempur AS serta puluhan drone milik AS dan Israel.
Kondisi ini memperlihatkan adanya celah dalam sistem pertahanan yang selama ini dianggap unggul.
Tidak hanya itu, Iran juga disebut mampu memulihkan sebagian kekuatan militernya dalam waktu relatif singkat. Setelah gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan, sekitar setengah dari peluncur rudal Iran dilaporkan kembali beroperasi.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari tersebut telah memberikan tekanan besar terhadap sumber daya militer AS.
Penggunaan intensif sistem intersepsi canggih dan senjata jarak jauh seperti Tomahawk serta Joint Air-to-Surface Standoff Missile disebut menjadi faktor utama terkurasnya persediaan.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa lebih dari setengah stok amunisi kunci Amerika Serikat kemungkinan telah habis.
Situasi ini diperparah oleh pengiriman senjata sebelumnya ke Ukraina dan Israel, serta kapasitas produksi yang belum mampu mengejar kebutuhan perang.
Bahkan, sebagian pejabat Pentagon mengakui bahwa kondisi ini dapat berdampak serius jika AS harus menghadapi kekuatan militer besar lain seperti Rusia atau China.
Meski demikian, pihak Pentagon tetap menegaskan bahwa laporan kepada Presiden Trump telah disampaikan secara lengkap dan objektif.
Trump sendiri tetap menunjukkan sikap percaya diri. Ia menyebut operasi militer tersebut sebagai kemenangan besar dan bahkan mengklaim bahwa persediaan senjata AS hampir tidak terbatas.
Namun, sejumlah pihak di dalam pemerintahan justru meragukan klaim tersebut dan menilai ada kecenderungan penyampaian informasi yang disesuaikan dengan preferensi presiden.
“Pengalaman Pete di televisi membuatnya sangat piawai dalam memahami cara berbicara kepada Trump dan bagaimana pola pikirnya,” kata seorang mantan pejabat kepada The Atlantic dikutip dari awak media, Rabu 29 April 2026.
“Hegseth berusaha mengatakan kepada presiden persis apa yang ingin didengarnya. Menurut saya itu berbahaya,” ujar pejabat lain sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.
Di tengah dinamika tersebut, posisi Vance menjadi sorotan. Ia dinilai berada dalam tekanan untuk menyeimbangkan sikap skeptis terhadap perang dengan ambisi politik yang berkaitan dengan hasil konflik ini.
Keterbatasan persenjataan juga mendorong Pentagon mencari solusi alternatif. Salah satunya dengan melibatkan sektor industri sipil dalam produksi amunisi dan perlengkapan militer.
Laporan dari The Wall Street Journal menyebut bahwa pejabat militer AS telah berdiskusi dengan perusahaan otomotif besar seperti General Motors dan Ford untuk mendukung produksi kebutuhan perang.
Langkah ini menandai eskalasi serius dalam upaya mempertahankan kapasitas militer di tengah konflik berkepanjangan. Di sisi lain, perbedaan pandangan antara pejabat tinggi pemerintahan mencerminkan adanya ketegangan internal terkait strategi dan transparansi informasi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa di balik pernyataan publik yang optimistis, terdapat kekhawatiran nyata mengenai kesiapan militer Amerika Serikat dalam menghadapi konflik jangka panjang.