INBERITA.COM, Ketidakpuasan melanda acara lomba lari 10 kilometer dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu.
Pemenang lomba justru hanya menerima hadiah tiga gelas kaca, padahal panitia telah menyiapkan anggaran Rp2 juta untuk hadiah para juara.
Kekecewaan tersebut disampaikan langsung oleh orang tua salah satu peserta yang mendatangi Kantor Camat Kilo pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Dalam video yang beredar, pria bernama Ibrahim mengungkapkan ketidaksetujuannya karena anaknya yang menjadi juara 1 hanya menerima hadiah yang tidak sesuai janji.
“Lari 10 kilometer masa dapat hadiah gelas tiga biji,” ujarnya dalam video yang viral di media sosial.
Warga semakin mempertanyakan penyaluran anggaran hadiah yang disebut-sebut telah disiapkan untuk lomba tersebut. Ketidakpuasan tersebut akhirnya mendorong Camat Kilo untuk turun tangan secara pribadi.
Rusdi, Camat Kilo, memberikan klarifikasi bahwa ia menanggung hadiah secara pribadi dengan rincian Rp600 ribu untuk juara pertama, Rp400 ribu untuk juara kedua, dan Rp300 ribu untuk juara ketiga.
Aksi protes tersebut terjadi di Kantor Camat Kilo dan melibatkan adu mulut antara Ibrahim dan panitia.
Ibrahim sempat melemparkan gelas kaca ke arah Camat Rusdi dan panitia, namun lemparan tersebut tidak mengenai sasaran. Ia kemudian mengambil pecahan kaca dan mengarahkannya kepada panitia, yang memicu kemarahan Camat Rusdi.
Rusdi membenarkan kejadian tersebut dan menjelaskan bahwa ia memegang kerah baju Ibrahim untuk meredakan emosinya.
“Saya pegang baju dia itu dengan tujuan untuk meredakan emosinya dia. Bukan apa-apa,” tegasnya.
Ia mengakui bahwa ketidaksesuaian hadiah terjadi akibat miskomunikasi antar panitia berbagai mata lomba.
Menurut Rusdi, uang untuk lomba lari maraton telah digunakan untuk membeli hadiah lomba lain.
“Berkaitan dengan itu, untuk hadiah memang sudah direncanakan oleh seksi olahraga. Tapi ternyata ada miss komunikasi antara panitia dengan Bendahara,” tuturnya.
Ia mengaku telah menyelesaikan masalah tersebut dengan menggunakan uang pribadinya sebesar Rp2 juta.
Uang pribadi tersebut digunakan untuk menutupi kekurangan agar nama baik Pemerintah Kecamatan Kilo tetap terjaga.
“Sudah saya selesaikan pada hari itu juga kemarin, tidak ada lagi yang mempersoalkan, para pemenang juga sudah menerima hadiah mereka masing-masing,” ujar Rusdi.
Ia menegaskan bahwa semua pihak telah menerima hadiah sesuai ketentuan.
Kisah ini menyoroti pentingnya transparansi dalam penyelenggaraan acara pemerintah. Hadiah yang tidak sesuai janji dapat menimbulkan kekecewaan dan protes dari masyarakat. Miskomunikasi antar panitia juga menjadi faktor utama terjadinya ketidaksesuaian tersebut.
Acara lomba lari yang digelar untuk memeriahkan HUT ke-81 RI seharusnya menjadi momen kebanggaan bagi warga Kecamatan Kilo.
Namun, ketidakpuasan terhadap hadiah yang diterima justru mencoreng semangat tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan dan koordinasi yang baik sangat diperlukan dalam setiap penyelenggaraan acara.
Kisah ini juga menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan detail dalam setiap kegiatan yang melibatkan masyarakat. Transparansi dan komunikasi yang baik dapat mencegah terjadinya miskomunikasi dan ketidakpuasan di kemudian hari.