INBERITA.COM, Kampung Ciuncal di Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, tiba-tiba menjadi sorotan nasional setelah rumah sederhana milik Susanah (38) dipasangi garis polisi.
Langkah drastis ini diambil perangkat lingkungan setempat untuk membatasi akses awak media yang berdatangan secara membludak usai Presiden Prabowo Subianto menyebut namanya dalam pidato kenegaraan.
Pemasangan garis polisi kuning di teras rumah dan pos ronda di sekitarnya dilakukan atas kesepakatan Ketua RW, kepala desa, serta kepala dusun.
Keputusan ini diambil beberapa hari sebelum 17 Agustus 2026, saat Susanah dan suaminya, Didim, tengah berada di Jakarta untuk menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Menurut Iis, istri Ketua RT 01, tindakan ini semata-mata untuk melindungi psikologis anak-anak Susanah yang tiba-tiba terpapar sorotan publik.
“Kekhawatiran terbesar kami adalah kondisi mental anak-anak yang belum siap menghadapi situasi mendadak ini,” ujar Iis, Selasa (18/8/2026).
Ia menambahkan, sejak viralnya nama Susanah, berbagai pihak termasuk instansi pemerintah kerap datang tanpa koordinasi, membuat keluarga merasa terganggu. Kebijakan baru kini berlaku: setiap awak media yang ingin meliput harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pengurus lingkungan setempat.
Kontroversi ini bermula saat Presiden Prabowo menyebut Susanah dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Gedung Nusantara, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Dalam pidatonya, Presiden menyebut Susanah sebagai warga Bogor yang bekerja mengupas bawang dengan upah fantastis Rp700 ribu per kilogram. Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan luas di media sosial karena dinilai tidak masuk akal.
Namun, keluarga dan perangkat lingkungan Kampung Ciuncal dengan tegas membantah klaim tersebut. Iis menegaskan, tidak ada warga di RT 01 yang berprofesi sebagai pengupas bawang.
Susanah selama ini bekerja sebagai pembuat kain lap majun di rumah dan pembersih ompreng di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak tujuh bulan terakhir. Sementara suaminya bekerja sebagai kuli bangunan.
Klarifikasi lebih rinci datang dari kakak ipar Susanah, Wina, yang menyebut angka Rp700 ribu per kilogram adalah kesalahpahaman. Menurutnya, tarif yang benar adalah Rp700 per kilogram untuk jahitan kain majun, bukan untuk pengupasan bawang.
“Itu tidak benar kalau dia bekerja mengupas bawang dengan harga Rp700 ribu per kilo,” tegas Wina di rumah Susanah, Minggu (16/8/2026).
Dalam sehari, Susanah mampu menyelesaikan sekitar 20 kilogram kain lap majun, dengan penghasilan harian hanya Rp14.000.
Klarifikasi serupa juga disampaikan melalui akun media sosial anak Susanah, yang menyebut ibunya sendiri merasa terkejut saat mendengar namanya disebut sebagai pengupas bawang dalam pidato Presiden. Kehebohan ini semakin menegaskan betapa pentingnya verifikasi data sebelum informasi disebarluaskan.
Menanggapi simpang siur informasi ini, Istana Negara berjanji akan melakukan penelusuran ulang.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi hanya menyampaikan, “Nanti kita cek ya,” saat ditemui awak media di Istana Negara, Jakarta.
Pernyataan singkat tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tengah berupaya menenangkan situasi yang semakin memanas.
Kisah Susanah mencerminkan betapa rentannya informasi yang tersebar di era digital. Kesalahan dalam menyampaikan data, meski tidak disengaja, dapat berdampak luas terhadap kehidupan pribadi seseorang.
Dalam hal ini, Presiden sebagai figur publik memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap pernyataan yang disampaikan didukung oleh fakta yang akurat.
Kontroversi ini juga menyoroti pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menangani isu sosial.
Program-program perlindungan sosial seperti Keluarga Harapan dan Program Sembako memang bertujuan untuk membantu masyarakat, tetapi penyampaian informasi yang tidak tepat dapat menimbulkan dampak negatif yang tidak terduga.
Bagi Susanah dan keluarganya, viralnya nama mereka telah mengubah dinamika kehidupan sehari-hari. Dari yang semula tenang, kini mereka harus menghadapi hiruk-pikuk media dan berbagai pihak yang ingin mengetahui lebih jauh.
Garis polisi yang dipasang di rumah mereka menjadi simbol betapa cepatnya sebuah informasi dapat mengubah kehidupan seseorang.
Di tengah kontroversi ini, yang terpenting adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat dapat belajar dari kasus ini. Verifikasi data yang ketat dan koordinasi yang baik harus menjadi prioritas agar tidak ada lagi pihak yang dirugikan akibat informasi yang tidak akurat.
Susanah, dengan segala kesederhanaannya, kini menjadi contoh betapa pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan dan menerima informasi.