Jokowi Terima Gelar Sesepuh Raja-Raja Timor, Ribuan Warga Padati Pantai LLBK

INBERITA.COM, Mantan Presiden Joko Widodo menerima penghormatan adat sebagai Sesepuh Raja-Raja Timor dalam sebuah prosesi budaya yang berlangsung di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Penobatan tersebut menjadi salah satu rangkaian utama dalam penyelenggaraan Karnaval Gajah yang dipusatkan di kawasan Pantai Lahi Lai Besi Kopan (LLBK) dan dihadiri ribuan masyarakat.

Sejak sore hari, kawasan pesisir Pantai LLBK telah dipenuhi warga yang ingin menyaksikan secara langsung jalannya acara. Antusiasme masyarakat terlihat ketika rombongan Jokowi tiba di lokasi.

Banyak warga berusaha mendekat untuk bersalaman, mengabadikan momen dengan telepon genggam, hingga meminta foto bersama.

Di tengah kerumunan, Jokowi menyapa masyarakat yang telah menunggu kehadirannya. Ia melambaikan tangan dan membagikan sejumlah kaus kepada warga. Suasana berlangsung meriah dengan sorak-sorai masyarakat yang memadati area acara.

Prosesi adat kemudian dimulai ketika Jokowi naik ke atas panggung. Dalam tradisi penyambutan khas Timor, ia terlebih dahulu dikenakan ikat kepala adat serta balutan kain tenun khas Nusa Tenggara Timur.

Busana adat tersebut menjadi simbol penghormatan kepada tamu sekaligus bentuk penerimaan dalam tradisi masyarakat setempat.

Setelah itu, para raja adat yang hadir mengelilingi Jokowi untuk menjalankan rangkaian prosesi penobatan.

Masing-masing raja menyampaikan doa dan harapan, kemudian mengalungkan selendang adat sebagai bagian dari penghormatan yang memiliki makna persaudaraan, penghargaan, serta ikatan budaya.

Melalui rangkaian prosesi tersebut, Jokowi secara resmi menerima gelar kehormatan sebagai Sesepuh Raja-Raja Timor. Penobatan berlangsung di hadapan masyarakat yang memenuhi kawasan acara dan menjadi salah satu momen yang paling banyak diabadikan pengunjung.

Raja Amanatun, Jonathan Banunaek, menjelaskan bahwa penghormatan adat itu diberikan langsung oleh para pemimpin kerajaan yang masih memiliki wilayah adat di Pulau Timor.

Ia menegaskan bahwa prosesi tersebut dilakukan oleh raja-raja yang memiliki legitimasi adat, bukan sekadar komunitas budaya.

“Satu Raja Amarasi tidak hadir, yang delapan hadir semua. Jadi penobatan itu dari delapan raja dan bukan raja-rajaan, raja yang punya wilayah kerajaan,” ujar Jonathan kepada wartawan.

Ia merinci delapan kerajaan yang mengikuti prosesi tersebut, yakni Raja Wewiku-Wehal, Raja Amanatun, Raja Amanuban, Raja Mollo, Raja Biboki, Raja Bikomi Nilulat, Raja Amfoang, dan Raja Nisnoni.

“Satu Raja Kerajaan Amarasi tidak hadir,” katanya.

Keberadaan para raja adat dalam acara tersebut mencerminkan masih kuatnya posisi lembaga adat di sejumlah wilayah Pulau Timor.

Meski sistem pemerintahan kerajaan tidak lagi menjadi bagian dari struktur pemerintahan negara, eksistensi para pemimpin adat tetap memiliki peran penting dalam menjaga tradisi, menyelesaikan persoalan sosial tertentu, hingga melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Bagi masyarakat Timor, prosesi adat seperti penobatan atau pemberian gelar kehormatan bukan sekadar seremoni.

Di balik setiap tahapan terdapat simbol penghargaan terhadap hubungan sosial, penghormatan kepada tamu, dan pengakuan atas kontribusi seseorang menurut pandangan masyarakat adat.

Kegiatan budaya yang dikemas melalui Karnaval Gajah juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Nusa Tenggara Timur kepada masyarakat luas.

Selain menampilkan prosesi adat, acara tersebut menghadirkan beragam atraksi budaya yang memperlihatkan keragaman identitas masyarakat Timor.

Kehadiran ribuan warga di lokasi menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap kegiatan budaya yang melibatkan tokoh nasional. Tidak sedikit pengunjung datang bersama keluarga untuk menyaksikan jalannya prosesi sejak awal hingga selesai.

Selama acara berlangsung, suasana tetap dipenuhi semangat kebersamaan. Warga tampak antusias mengikuti setiap tahapan prosesi, sementara para tokoh adat menjalankan ritual sesuai tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Penobatan Jokowi sebagai Sesepuh Raja-Raja Timor sekaligus menjadi simbol penghormatan adat yang diberikan oleh para pemimpin kerajaan di Pulau Timor.

Di sisi lain, peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi lokal tetap hidup dan mendapat tempat dalam berbagai kegiatan publik, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman.