INBERITA.COM, Iran memasuki fase politik dan sosial yang tidak biasa setelah pemerintah mengumumkan penutupan sementara aktivitas pemerintahan di ibu kota selama tiga hari penuh.
Kebijakan tersebut diberlakukan menjelang rangkaian pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menjadi salah satu peristiwa kenegaraan terbesar dalam sejarah modern negara itu.
Keputusan itu diumumkan melalui televisi pemerintah pada Selasa dan langsung memicu persiapan besar-besaran di Teheran.
Pemerintah menetapkan wilayah ibu kota akan diliburkan pada 4 hingga 6 Juli, sementara hari pemakaman juga dijadikan libur nasional yang berlaku di seluruh Iran.
Langkah ini diperkirakan akan menghentikan sementara aktivitas administrasi, ekonomi, dan layanan publik di berbagai sektor.
Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Hassan Hassanzadeh, yang memimpin penyelenggaraan upacara, menjelaskan bahwa prosesi penghormatan terakhir akan berlangsung di Grand Mosalla Teheran.
Lokasi tersebut dipilih karena kapasitasnya yang besar dan sering digunakan untuk acara kenegaraan berskala massal.
Ia menyebutkan bahwa upacara penghormatan dan salat jenazah akan digelar pada 4 dan 5 Juli, sedangkan prosesi pemakaman utama dijadwalkan pada 6 Juli.
“Upacara penghormatan terakhir dan salat jenazah untuk pemimpin yang gugur akan dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu, 4–5 Juli, di Grand Mosalla Teheran.
Prosesi pemakaman akan digelar pada Senin, 6 Juli,” ujar Hassanzadeh dalam pernyataannya yang dikutip media pemerintah.
Rangkaian acara ini diperkirakan menjadi salah satu momen mobilisasi massa terbesar dalam beberapa tahun terakhir di Iran.
Pemerintah sendiri memperkirakan jutaan warga akan hadir untuk memberikan penghormatan terakhir, meski belum ada angka resmi yang dirilis secara terbuka.
Di sisi lain, aparat keamanan Iran dilaporkan telah menyiapkan pengamanan ketat di seluruh titik strategis ibu kota. Grand Mosalla menjadi fokus utama pengamanan, sementara jalur-jalur utama kota juga diperkirakan akan dipadati arus massa dari berbagai provinsi.
Pemakaman Khamenei juga akan dihadiri oleh pejabat tinggi negara, tokoh agama, serta delegasi dari sejumlah negara sahabat. Kehadiran para tamu internasional ini menambah dimensi diplomatik dalam prosesi yang tidak hanya bersifat keagamaan, tetapi juga politis.
Kematian Khamenei sendiri terjadi beberapa bulan sebelumnya dalam serangan besar yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut dilaporkan menargetkan sejumlah infrastruktur militer dan pemerintahan di Iran, termasuk kawasan tempat Khamenei berada.
Beberapa laporan internasional menyebutkan bahwa serangan tersebut menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran lainnya, dan menjadi titik awal perubahan besar dalam struktur kepemimpinan negara.
Meski demikian, detail lengkap mengenai dampak serangan masih terus menjadi bahan perdebatan dan penyelidikan di berbagai kalangan internasional.
Pasca kejadian tersebut, Iran memasuki masa transisi politik yang kompleks, termasuk penunjukan kepemimpinan baru serta pembentukan struktur sementara untuk menjaga stabilitas pemerintahan.
Situasi ini membuat prosesi pemakaman Khamenei tidak hanya menjadi acara duka nasional, tetapi juga simbol penting dari fase baru dalam sejarah politik Iran.
Sejumlah pengamat menilai, skala besar pemakaman ini menunjukkan upaya pemerintah Iran untuk menegaskan stabilitas di tengah tekanan geopolitik yang masih berlangsung.
Ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel disebut masih menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika keamanan kawasan Timur Tengah.
Dengan kombinasi antara mobilisasi massa, pengamanan ketat, serta sorotan internasional, Teheran diperkirakan akan menjadi pusat perhatian dunia pada awal Juli.
Prosesi pemakaman ini bukan hanya menandai akhir dari sebuah era kepemimpinan, tetapi juga membuka babak baru yang penuh ketidakpastian bagi masa depan politik Iran.