INBERITA.COM, Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan.
Keputusan tersebut diambil di tengah kembali memanasnya hubungan Iran dan Amerika Serikat yang dalam beberapa hari terakhir diwarnai aksi saling serang.
Dalam pernyataan yang dikutip dari kantor berita resmi IRNA pada Minggu, IRGC menyebut langkah itu diambil setelah terjadi insiden yang melibatkan sebuah kapal yang disebut tidak mematuhi prosedur pelayaran yang telah ditetapkan.
Menurut IRGC, sejumlah kapal dilaporkan berusaha melintasi jalur yang tidak diizinkan meski telah berulang kali diperingatkan untuk mengubah haluan dan menggunakan rute yang disetujui.
Salah satu kapal juga disebut mematikan sistem operasionalnya sehingga dinilai membahayakan keselamatan navigasi.
“Kapal tersebut terkena tembakan peringatan sebelum akhirnya dihentikan,” demikian keterangan IRGC.
Otoritas militer Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. IRGC juga menyatakan penutupan tersebut akan berlaku selama intervensi Amerika Serikat di kawasan masih berlangsung.
“Tidak ada kapal yang akan diizinkan melintas,” tegas IRGC dalam pernyataannya.
Selain mengumumkan penutupan jalur pelayaran strategis tersebut, IRGC juga memperingatkan akan memberikan respons yang lebih keras apabila terjadi serangan baru terhadap Iran.
Peringatan itu mencakup kemungkinan serangan terhadap pangkalan-pangkalan yang disebut sebagai milik “musuh” di kawasan.
Iran turut menuding campur tangan asing sebagai pemicu meningkatnya ketegangan.
Teheran menyebut Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS harus bertanggung jawab atas konsekuensi yang muncul apabila situasi terus memburuk.
Penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena jalur tersebut merupakan salah satu koridor maritim paling penting bagi perdagangan energi global.
Sebagian besar ekspor minyak mentah dari negara-negara Teluk setiap hari melewati perairan sempit tersebut sebelum dikirim ke berbagai kawasan, termasuk Asia, Eropa, dan Amerika.
Langkah terbaru Iran juga menandai kemunduran dari upaya deeskalasi yang sempat dilakukan beberapa waktu lalu.
Pada Juni 2026, Teheran dan Washington diketahui menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik yang pecah sejak akhir Februari.
Kesepakatan itu mencakup penghentian pertempuran di seluruh front, pencabutan blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
Namun, situasi kembali berubah setelah kedua negara saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir.
Amerika Serikat dilaporkan menyerang sejumlah sasaran di wilayah Iran, sementara Teheran membalas dengan menargetkan berbagai aset milik AS di kawasan Timur Tengah.
Hingga kini belum ada kepastian kapan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz akan kembali normal.
Kondisi tersebut terus dipantau komunitas internasional mengingat setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok energi, perdagangan global, dan stabilitas ekonomi dunia.