Iran Pasang Status Siaga Tinggi Usai Israel Ultimatum Serangan Militer Besar-besaran

INBERITA.COM, Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase kritis setelah Israel melontarkan ancaman terbuka terhadap Iran.

Situasi itu memicu kekhawatiran baru akan pecahnya konflik berskala besar yang tidak hanya melibatkan kedua negara, tetapi juga berpotensi menyeret Amerika Serikat dan sejumlah kekuatan regional lain.

Pernyataan keras dari Israel muncul di tengah proses negosiasi yang disebut masih berlangsung terkait isu keamanan kawasan dan program nuklir Iran.

Dalam pernyataan yang dikutip laporan media internasional, Israel memperingatkan bahwa operasi militer dapat dilakukan dalam hitungan jam apabila tidak tercapai kesepakatan.

“Kami akan menyerang Iran dalam beberapa jam jika tidak ada kesepakatan yang dicapai,” demikian pernyataan yang dikutip dari laporan media kawasan pada Ahad, 17 Mei 2026.

Ancaman tersebut langsung dibalas Teheran dengan nada tidak kalah tegas. Pemerintah Iran menyatakan setiap bentuk serangan akan dijawab secara cepat dan keras. Respons itu memperlihatkan bahwa hubungan kedua negara kini berada di titik yang sangat sensitif.

“Serangan apa pun akan dijawab dengan respons yang luar biasa dan segera,” demikian pernyataan pihak Iran.

Pernyataan saling ancam itu mempertegas meningkatnya ketidakstabilan kawasan dalam beberapa pekan terakhir. Di saat sejumlah negara berusaha mendorong jalur diplomasi, aktivitas militer justru dilaporkan meningkat di sekitar Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Laporan media Amerika menyebut Washington dan Tel Aviv memperkuat koordinasi pertahanan untuk menghadapi berbagai kemungkinan apabila negosiasi dengan Iran gagal. Sejumlah pejabat militer dikabarkan mulai membahas target strategis yang dapat disasar dalam operasi lanjutan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga kembali menegaskan sikap keras terhadap program nuklir Iran. Dalam wawancara dengan media Amerika, Trump menekankan bahwa Washington tidak akan membiarkan Teheran memiliki senjata nuklir.

“Saya hanya bisa mengatakan, dengan keyakinan yang sangat kuat Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” ujar Trump.

Pernyataan itu muncul setelah pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Selain membahas hubungan bilateral, keduanya disebut turut menyoroti keamanan jalur energi internasional di Selat Hormuz.

Kawasan tersebut menjadi salah satu titik paling strategis di dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak global melintas setiap hari melalui jalur itu. Karena alasan tersebut, ancaman konflik di sekitar Iran langsung memicu gejolak pasar energi internasional.

Harga minyak dunia sempat mengalami kenaikan setelah ancaman terbaru Israel terhadap Iran mencuat ke publik. Pelaku pasar khawatir perang baru akan mengganggu distribusi energi global dan memperparah ketidakpastian ekonomi dunia yang belum sepenuhnya pulih.

Di sisi lain, Iran menunjukkan tanda-tanda kesiapan menghadapi kemungkinan konfrontasi terbuka. Pemerintah Teheran menegaskan mereka tidak akan tunduk terhadap tekanan politik maupun ancaman militer dari Amerika Serikat dan Israel.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi mengatakan negaranya siap menghadapi segala bentuk tekanan.

“Iran berdiri teguh menghadapi ancaman. Kami tidak akan tunduk,” ujarnya.

Pernyataan serupa juga datang dari Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC yang disebut telah meningkatkan status kesiapsiagaan di sejumlah wilayah strategis. Laporan media Iran menyebut pangkalan rudal bawah tanah serta sistem pertahanan udara kini berada dalam kondisi siaga tinggi.

Dalam beberapa bulan terakhir, Iran diketahui mempercepat pengembangan persenjataan domestik, termasuk rudal jarak jauh generasi baru dan sistem pertahanan udara yang diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman.

Pengamat Timur Tengah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Khalid Al Walid, menilai Iran memanfaatkan masa jeda konflik sebelumnya untuk memperkuat sistem militernya.

Menurut dia, Teheran tidak hanya membangun kembali fasilitas persenjataan yang sempat terdampak konflik, tetapi juga mengembangkan teknologi rudal baru dengan kemampuan manuver lebih tinggi.

“Dalam waktu ceasefire ini Iran membangun kembali persenjataan mereka dan menguji beberapa rudal baru,” katanya kepada awak media.

Ia juga menyebut Iran memiliki jaringan fasilitas bawah tanah yang sulit dihancurkan melalui serangan udara konvensional. Infrastruktur itu diyakini menjadi salah satu faktor yang membuat Amerika Serikat dan Israel lebih berhati-hati dalam mengambil langkah militer.

Kekhawatiran serupa muncul di internal intelijen Amerika Serikat. Sejumlah laporan media menyebut Pentagon menilai kemampuan militer Iran masih jauh dari lumpuh meski tekanan ekonomi dan politik terus dilakukan.

Iran bahkan disebut berhasil memulihkan sebagian besar situs rudal strategis di sekitar Selat Hormuz. Selain itu, mayoritas peluncur rudal bergerak mereka dilaporkan masih aktif dan siap digunakan sewaktu-waktu.

Situasi tersebut membuat banyak analis memperingatkan bahwa perang baru di Timur Tengah bisa berkembang menjadi konflik panjang dengan dampak global yang serius.

Selain risiko korban sipil dan instabilitas kawasan, gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia.

China sendiri mulai mendorong penyelesaian diplomatik dan menolak eskalasi militer lebih lanjut. Beijing menilai stabilitas jalur perdagangan energi internasional harus menjadi prioritas karena gangguan di kawasan tersebut dapat memengaruhi ekonomi global secara luas.

Meski berbagai negara menyerukan penahanan diri, situasi di lapangan masih menunjukkan peningkatan tensi. Israel terus meningkatkan kesiapan tempur, sementara Iran menegaskan siap menghadapi “segala skenario”.

Analis geopolitik menilai bentrokan langsung antara Israel dan Iran bukan lagi sekadar ancaman retoris. Jika salah perhitungan terjadi, konflik dapat meluas ke banyak negara dan menciptakan krisis keamanan internasional baru di tengah kondisi ekonomi global yang masih rapuh.