Iran Bersikeras Pertahankan Selat Hormuz, Sebut Agresi AS Tak Akan Berhasil

INBERITA.COM, Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki babak baru setelah Teheran menegaskan tidak akan membuka akses Selat Hormuz melalui tekanan militer maupun tindakan agresif.

Pernyataan itu disampaikan ketika situasi keamanan di kawasan Teluk masih memanas akibat rangkaian aksi saling serang kedua negara.

Juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, mengatakan angkatan bersenjata Iran tetap berkomitmen mempertahankan kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut. Menurutnya, penggunaan kekuatan militer tidak akan memaksa Iran mengubah kebijakannya.

“Selat Hormuz tidak akan dibuka melalui perang atau agresi. Satu-satunya jalan adalah menghormati hak-hak rakyat Iran,” kata Akraminia seperti dikutip dari laporan media.

Ia juga menegaskan Iran memiliki kewajiban untuk membalas kematian para tokoh yang disebut sebagai syuhada, termasuk para pemimpin Revolusi Islam yang gugur dalam konflik.

Pernyataan tersebut memperkuat sikap Teheran setelah Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebelumnya mengumumkan penutupan sementara Selat Hormuz pada Minggu (12/7/2026).

Penutupan dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan sebagai respons terhadap apa yang disebut Iran sebagai campur tangan asing di kawasan.

Dalam pernyataannya, IRGC menyebut langkah tersebut juga berkaitan dengan keberadaan jalur pelayaran yang dinilai tidak sesuai dengan aturan yang diterapkan Iran.

Militer Iran mengaku telah mengambil tindakan terhadap sejumlah kapal yang dianggap melanggar ketentuan pelayaran, termasuk kapal yang mematikan sistem identifikasi otomatis serta keluar dari rute yang ditetapkan.

IRGC menyatakan kapal-kapal tersebut terlebih dahulu menerima peringatan sebelum dilakukan tindakan lebih lanjut.

Menurut mereka, sebagian kapal tetap mengabaikan instruksi untuk kembali ke jalur yang telah ditentukan.

“Tidak ada kapal yang akan diizinkan melewati selat tersebut hingga campur tangan Amerika Serikat di kawasan ini berakhir,” demikian pernyataan Angkatan Laut IRGC.

Di sisi lain, hubungan Iran dan Amerika Serikat terus memburuk setelah kedua negara terlibat aksi militer dalam beberapa hari terakhir.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memberi tahu Kongres bahwa konflik dengan Iran kembali meningkat, sementara militer AS diklaim melanjutkan operasi terhadap sejumlah sasaran di wilayah Iran.

Sebagai respons, Iran disebut melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah target yang berkaitan dengan kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Situasi tersebut memperbesar kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah.

Pemerintah Amerika Serikat juga mengumumkan langkah baru berupa pemberlakuan blokade terhadap aktivitas maritim Iran dan rencana pengenaan biaya bagi kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari strategi pengamanan jalur pelayaran.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur laut paling vital bagi perdagangan energi dunia. Sebagian besar ekspor minyak mentah dan gas alam dari negara-negara Teluk melewati kawasan tersebut sebelum dikirim ke pasar internasional.

Karena perannya yang sangat strategis, setiap gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi rantai pasok energi global, meningkatkan harga minyak, dan menambah tekanan terhadap perekonomian dunia.

Hingga kini, komunitas internasional masih terus memantau perkembangan situasi sembari mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.