Hujan Lebat Guyur Masjidil Haram, Ini Peringatan Cuaca Ekstrem di Makkah

INBERITA.COM, Hujan lebat mengubah suasana Masjidil Haram, Makkah, pada Minggu (13/9/2026) petang. Ketika waktu Magrib tiba, kawasan di sekitar Ka’bah diguyur hujan cukup deras, tetapi aktivitas ibadah jemaah tetap berlangsung.

Jemaah yang berada di area mataf tetap menjalankan tawaf, sementara salat Magrib berjemaah juga terlaksana di tengah guyuran air hujan. Pemandangan tersebut terlihat dari siaran langsung kawasan Masjidil Haram sekitar pukul 18.00 hingga 19.00 waktu Arab Saudi (WAS).

Air hujan membasahi lantai kawasan di sekitar Ka’bah ketika jemaah bergerak mengelilinginya. Tawaf merupakan salah satu rangkaian utama ibadah umrah, dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran berlawanan arah jarum jam.

Situasi itu justru menghadirkan suasana berbeda di salah satu tempat paling ramai di Kota Suci. Sejumlah jemaah terlihat tetap menjalankan ibadah dengan tenang meskipun hujan turun cukup deras.

Pengelola siaran langsung Masjidil Haram menggambarkan suasana tersebut sebagai momen penuh kekhusyukan. Jemaah disebut tetap mengelilingi Ka’bah di tengah guyuran hujan.

Pemerintah Provinsi Makkah juga melaporkan hujan deras terjadi di kawasan Masjidil Haram ketika salat Magrib berlangsung.

Selain melanjutkan ibadah, sebagian jemaah tampak mengabadikan suasana hujan dengan telepon seluler. Ada pula yang menengadahkan tangan dan memanjatkan doa ketika hujan turun.

Dalam tradisi Islam, waktu turunnya hujan kerap dipandang sebagai salah satu waktu yang baik untuk berdoa. Karena itu, fenomena hujan di kawasan Masjidil Haram tidak hanya menjadi peristiwa cuaca bagi jemaah, tetapi juga menjadi momen spiritual bagi mereka yang sedang berada di Tanah Suci.

Hujan tersebut tidak hanya terjadi di sekitar Masjidil Haram. Sejumlah kawasan lain di Makkah juga dilaporkan mengalami hujan deras. Rekaman yang beredar memperlihatkan air mengalir cukup deras di sejumlah ruas jalan kota.

Kondisi ini sebelumnya sudah mendapat perhatian otoritas meteorologi Arab Saudi. Pusat Meteorologi Nasional atau National Center for Meteorology (NCM) mengeluarkan peringatan mengenai potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah pada Minggu.

Peringatan tersebut mencakup potensi badai petir dengan intensitas sedang hingga lebat. Fenomena itu juga dapat disertai angin kencang, hujan es, serta kondisi yang memungkinkan terjadinya debu dan pasir beterbangan.

Untuk wilayah Makkah dan Madinah, prakiraan cuaca menunjukkan adanya peluang badai petir dengan intensitas sedang hingga lebat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena hujan berintensitas tinggi di wilayah Arab Saudi dapat meningkatkan risiko genangan hingga banjir bandang di lokasi tertentu.

Ancaman cuaca tidak hanya terbatas di dua kota suci. Wilayah Jazan, Asir, dan Al-Baha, terutama kawasan dataran tinggi, juga diperkirakan menghadapi potensi badai petir.

Kabut berpeluang muncul di sejumlah daerah pegunungan, sementara Najran dan bagian selatan Provinsi Timur juga masuk dalam cakupan prakiraan tertentu.

Abha, Jazan, dan Al-Baha diprediksi mengalami badai petir sedang hingga lebat yang disertai angin kencang. Di Jazan, debu beterbangan juga menjadi salah satu potensi yang perlu diwaspadai.

Sementara itu, Jeddah dan Najran berpotensi mengalami awan badai petir serta angin kencang yang dapat membawa debu. Jeddah juga memiliki peluang terbentuknya kabut.

Di tengah kondisi tersebut, kontras cuaca di berbagai kota Arab Saudi cukup mencolok. Riyadh, Tabuk, Arar, dan Sakaka diperkirakan relatif stabil, sedangkan Buraidah dan Hail berada dalam kondisi cerah hingga berawan sebagian.

Yang menarik, hujan lebat di Makkah terjadi ketika temperatur kawasan tersebut tetap tergolong tinggi. Prakiraan menunjukkan suhu maksimum Makkah mencapai sekitar 42 derajat Celsius.

Madinah dan Dammam bahkan diperkirakan mencapai 44 derajat Celsius. Riyadh dan Buraidah berada di kisaran 43 derajat Celsius, sedangkan Hail sekitar 41 derajat. Arar diprediksi mencapai 40 derajat, sementara Tabuk dan Sakaka sekitar 39 derajat Celsius.

Perbedaan antara suhu tinggi dan potensi hujan deras menunjukkan karakter cuaca Arab Saudi yang tidak selalu identik dengan kondisi panas dan kering.

Pada periode tertentu, atmosfer dapat berkembang menjadi tidak stabil dan menghasilkan awan konvektif serta badai petir meski temperatur permukaan masih sangat tinggi.

Bagi jemaah umrah, perubahan cuaca seperti ini menjadi faktor penting selama menjalankan rangkaian ibadah. Hujan dapat membuat permukaan lantai dan jalan menjadi licin, sementara badai petir dan angin kencang berpotensi mengganggu mobilitas apabila intensitasnya meningkat.

Karena itu, jemaah yang berada di Makkah perlu memperhatikan pengumuman resmi mengenai kondisi cuaca, terutama ketika hendak bergerak antara hotel, Masjidil Haram, dan lokasi ibadah lainnya.

Perlengkapan sederhana seperti payung atau jas hujan dapat membantu, tetapi ketika muncul peringatan cuaca berat, keselamatan tetap perlu menjadi pertimbangan utama.

Hujan di Masjidil Haram pada Minggu petang akhirnya menjadi perpaduan antara fenomena alam dan aktivitas spiritual.

Di tengah air yang turun membasahi kawasan Ka’bah, jemaah tetap menjalankan ibadah dengan suasana yang relatif khusyuk, sementara otoritas setempat terus memantau potensi cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Arab Saudi.