INBERITA.COM, Warga Bogor merasakan dampak langsung dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Minggu dini hari tanggal 6 September 2026.
Sejumlah material vulkanik terbawa angin hingga mencemari wilayah Jawa Barat tersebut dan mengganggu aktivitas luar ruangan.
Oktavian yang berusia 24 tahun menjadi salah satu warga Tanahsareal, Kota Bogor, yang mendapati kendaraannya terselimuti partikel asing. Ia awalnya mengira kotoran tersebut berasal dari polusi asap kendaraan atau sisa debu jalanan biasa.
Guna memastikan asal usul kotoran itu, ia membersihkan jok motornya pada pukul 00.00 WIB dan membiarkannya selama sepuluh menit. Setelah sepuluh menit berlalu, lapisan tipis kotoran kembali menempel di permukaan jok kendaraannya.
“Gue bersihin, ada videonya kok pas bersihin. Cuma pas waktu setelah 10 menit ada gitu. Walaupun enggak banyak kayak ditimbun, mungkin 20 menit sampai 1 jam lebih mungkin bakal ngebandel sih debunya,” kata Oktavian saat ditemui wartawan di Tanahsareal, Kota Bogor, Minggu dini hari.
Selain kendaraan bermotor, material tersebut juga mengotori barang pribadi miliknya yang diletakkan di area terbuka. Permukaan botol minum atau tumbler miliknya terasa berbeda saat disentuh setelah dikeluarkan dari dalam tas.
“Gue pegang, kasar. Ada (debu) di tumbler gue yang berdiri enggak lama setelah dikeluarkan dari tas,” ujar dia.
Oktavian menyatakan kesadarannya untuk mulai mengenakan pelindung pernapasan demi kesehatan tubuh. Langkah ini diambil karena partikel asing tersebut datang tanpa diketahui secara pasti kapan akan mereda.
Kondisi serupa dialami oleh Bagas yang berusia 25 tahun di wilayah Kayumanis, Kota Bogor, pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 WIB. Ia mendapati helm serta kendaraan roda dua miliknya dipenuhi lapisan abu saat terparkir di halaman luar.
Bagas memastikan kotoran tersebut bukan bersumber dari aktivitas jalan raya karena situasi lingkungan sekitar sedang sepi kendaraan. Ia di Kayumanis memarkirkan kendaraannya dan mendapati helm serta kendaraannya berdebu tebal tanpa ada lalu lintas padat.
“Gue di Kayumanis, helm gue simpan luar banyak debunya helm sama vespa gue berdebu. Enggak (bukan jalanan kotor) soalnya jalanannya enggak yang ramai sama kendaraan sepi jalanannya,” kata Bagas.
Bagas meyakini material tersebut merupakan kiriman abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang sedang meletus. Ia langsung menyiapkan pelindung wajah sebagai antisipasi kesehatan sampai situasi udara kembali normal.
“Perlu masker sih untuk antisipasi, biar sehat saja,” ujarnya.
Warga lainnya bernama Akmal yang berusia 23 tahun merasakan gangguan pada bagian mata saat melintas di kawasan Sentul pada Sabtu siang pukul 14.15 WIB. Ia mulanya menduga kotoran tersebut hanya polusi jalan raya biasa meski frekuensinya terasa sangat janggal.
“Mata kelilipan melulu, enggak sesering biasanya, tetapi masih mikir itu debu kendaraan,” kata Akmal kepada wartawan pada hari Minggu.
Kecurigaannya terjawab ketika ia menggunakan gawai di luar rumah daerah Babakan Madang, Kabupaten Bogor, pada Sabtu malam pukul 23.00 WIB. Layar perangkat komunikasi miliknya mendadak terasa kesat dan kotor saat disentuh jari.
“Gue main ponsel tadi di luar, lah layar ponsel gue kesat. Motor gue juga, gue sampai colek buat cek, kotor banget. Di kaca helm saja sampai berkabut. Kendaraan yang enggak keluar juga berdebu,” kata Akmal.
Akmal menegaskan pentingnya memakai pelindung pernapasan untuk kegiatan luar ruangan berikutnya karena ketebalan material yang menempel.
“Perlu masker karena ini tebal banget menempel di kaca,” jelas dia.
Fenomena ini menunjukkan seberapa luas jangkauan sebaran material letusan gunung berapi tersebut mencapai dataran tinggi Bogor.