INBERITA.COM, Banyak orang merasa tenang karena memiliki tubuh langsing atau berat badan yang tergolong ideal. Namun, anggapan bahwa tubuh ramping identik dengan kesehatan dan bebas dari penyakit jantung ternyata tidak sepenuhnya benar.
Dokter spesialis jantung mengingatkan bahwa angka pada timbangan bukan satu-satunya indikator kesehatan. Seseorang yang tampak kurus tetap bisa memiliki kolesterol tinggi, penumpukan lemak berbahaya, hingga gangguan metabolisme yang meningkatkan risiko penyakit jantung.
Karena itu, menjaga kesehatan jantung tidak cukup hanya dengan mempertahankan berat badan ideal, tetapi juga memperhatikan berbagai faktor risiko lain yang sering kali tidak terlihat dari penampilan fisik.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan sedikitnya ada empat faktor yang membuat seseorang bertubuh langsing tetap berisiko mengalami penyakit jantung.
1. Faktor genetik atau keturunan
Salah satu penyebab yang tidak bisa dikendalikan adalah faktor keturunan. Menurut dr. Susetyo, sebagian orang memiliki kelainan genetik yang menyebabkan kadar kolesterol jahat atau Low-Density Lipoprotein (LDL) tetap tinggi sejak lahir.
Kondisi yang dikenal sebagai familial hypercholesterolemia ini membuat kadar kolesterol tetap tinggi meskipun penderitanya menjalani pola makan sehat.
“Dia makan sehat pun, kadar kolesterol darahnya sudah tinggi. Kenapa? Karena secara genetik memang dia ada abnormalitas dalam hal produksi atau sintesis dan pemecahan dari kolesterol, sehingga kadar kolesterol jahat di dalam darahnya tinggi,” jelas dr. Susetyo dalam sesi edukasi media yang diselenggarakan PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama PERKI.
Kolesterol LDL yang tinggi dapat memicu pembentukan plak di pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner maupun stroke apabila tidak terdeteksi sejak dini.
2. Cara mengolah makanan yang kurang sehat
Banyak orang menganggap kolesterol tinggi hanya disebabkan oleh kebiasaan makan berlebihan. Padahal, menurut dr. Susetyo, cara memasak justru memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan jantung.
Makanan yang sering diolah dengan cara digoreng atau menggunakan banyak lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol meskipun porsinya tidak banyak.
“Bagaimana cara kita memasak itu menentukan salah satunya kadar kolesterol tubuh kita,” ujarnya.
Karena itu, mengurangi konsumsi makanan yang digoreng dan lebih memilih metode memasak seperti merebus, mengukus, atau memanggang dapat membantu menjaga kadar kolesterol tetap terkendali.
3. Kurang aktivitas fisik
Tubuh kurus juga tidak selalu menunjukkan gaya hidup aktif. Sebagian orang memiliki berat badan normal karena pola makan yang sedikit, tetapi jarang berolahraga.
Menurut dr. Susetyo, kurang bergerak membuat proses pembakaran lemak dan kolesterol di dalam tubuh menjadi tidak optimal sehingga kolesterol jahat tetap dapat menumpuk.
“Karena jarang bergerak, mengakibatkan pembakaran kolesterol darah di tubuh kita itu minimal,” paparnya.
Aktivitas fisik secara rutin tidak hanya membantu menjaga berat badan, tetapi juga meningkatkan kesehatan pembuluh darah, memperbaiki metabolisme, dan menurunkan risiko penyakit jantung.
4. Penumpukan lemak visceral
Faktor lain yang sering luput dari perhatian adalah lemak visceral, yaitu lemak yang menumpuk di sekitar organ-organ dalam rongga perut.
Berbeda dengan lemak di bawah kulit yang dapat terlihat secara kasatmata, lemak visceral sering kali tidak disadari karena seseorang tetap tampak langsing dari luar.
Padahal, penumpukan lemak jenis ini berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, hingga gangguan metabolisme lainnya.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting, terutama untuk mengetahui kadar kolesterol, tekanan darah, dan gula darah yang tidak bisa dinilai hanya dari bentuk tubuh.
Para ahli menekankan bahwa menjaga kesehatan jantung memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh. Pola makan bergizi seimbang, olahraga teratur, menghindari rokok, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan kesehatan rutin merupakan langkah yang lebih efektif dibanding hanya berfokus pada angka berat badan.
Dengan demikian, risiko penyakit jantung dapat dideteksi dan ditangani lebih dini, bahkan pada orang yang terlihat sehat dan bertubuh ideal.