INBERITA.COM, Fenomena embun beku kembali menyelimuti kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, pada awal Juli 2026.
Sejumlah foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan hamparan rumput, tanaman, hingga lahan pertanian berubah putih akibat lapisan es tipis yang terbentuk pada dini hari.
Kondisi tersebut memicu perhatian masyarakat karena suhu di kawasan pegunungan itu dilaporkan turun hingga mencapai kisaran minus 5 sampai minus 6 derajat Celsius.
Meski kerap disebut sebagai “Dieng membeku”, fenomena yang terjadi sebenarnya bukanlah hujan salju.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa lapisan putih yang muncul di permukaan tanah merupakan embun beku atau frost, yaitu kristal es yang terbentuk ketika suhu permukaan turun sangat rendah hingga berada di bawah titik beku.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, menjelaskan bahwa masyarakat setempat lebih mengenal fenomena tersebut dengan istilah embun upas.
Dalam dunia meteorologi, embun beku terbentuk ketika uap air yang berada di dekat permukaan tanah langsung berubah menjadi kristal es akibat suhu yang sangat dingin.
Menurut Yoga, fenomena ini merupakan bagian dari karakteristik musim kemarau yang lazim terjadi di wilayah pegunungan Indonesia, terutama pada periode Juni hingga Agustus.
Pada rentang waktu tersebut, pola sirkulasi atmosfer dipengaruhi oleh Monsun Australia yang membawa massa udara kering menuju Indonesia.
Kondisi atmosfer yang lebih kering menyebabkan pembentukan awan menjadi sangat minim. Akibatnya, pada siang hari sinar Matahari dapat menyinari permukaan bumi secara maksimal sehingga tanah menyerap panas dalam jumlah besar.
Namun ketika malam tiba, panas yang tersimpan itu kembali dilepaskan ke atmosfer melalui radiasi tanpa terhalang lapisan awan.
“Alih-alih embun beku, masyarakat lebih mengenal fenomena tersebut sebagai embun upas,” kata Yoga kepada wartawan.
Ia menjelaskan bahwa minimnya tutupan awan membuat pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih cepat sepanjang malam. Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara turun drastis hingga mencapai titik terendah menjelang matahari terbit.
Perbedaan suhu antara siang dan malam selama musim kemarau memang menjadi ciri khas kawasan dataran tinggi seperti Dieng. Pada siang hari udara masih terasa hangat ketika matahari bersinar, tetapi suhu dapat merosot tajam beberapa jam setelah malam tiba.
Kombinasi udara kering, langit cerah, dan ketinggian wilayah menjadi faktor utama yang memungkinkan embun membeku menjadi lapisan es tipis.
Fenomena embun upas bukanlah kejadian baru bagi masyarakat Dieng. Hampir setiap musim kemarau, terutama saat kondisi atmosfer sangat stabil, lapisan es dapat muncul di area terbuka seperti padang rumput, dedaunan, hingga lahan pertanian kentang.
Karena terjadi secara musiman, masyarakat lokal sudah cukup mengenal karakteristik cuaca tersebut.
Meski menghadirkan pemandangan yang menarik dan kerap menjadi daya tarik wisata, embun beku juga membawa konsekuensi bagi sektor pertanian.
Lapisan es yang menempel pada daun tanaman berpotensi merusak jaringan tanaman, terutama komoditas hortikultura yang sensitif terhadap suhu ekstrem.
Oleh sebab itu, petani di kawasan Dieng biasanya meningkatkan kewaspadaan ketika prakiraan cuaca menunjukkan potensi suhu yang sangat rendah.
Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi magnet bagi wisatawan. Banyak pengunjung sengaja datang pada musim kemarau untuk menyaksikan langsung embun upas yang hanya muncul dalam waktu singkat menjelang pagi.
Namun wisatawan diimbau mempersiapkan perlengkapan yang memadai karena suhu udara dapat berada jauh di bawah suhu rata-rata wilayah lain di Pulau Jawa.
BMKG mengingatkan bahwa suhu dingin ekstrem di Dieng merupakan bagian dari dinamika cuaca yang dipengaruhi kondisi atmosfer regional, bukan pertanda terjadinya perubahan cuaca yang tidak biasa.
Fenomena tersebut akan lebih mudah muncul selama musim kemarau masih berlangsung, khususnya ketika langit cerah sepanjang malam dan kelembapan udara rendah.
Penjelasan ilmiah mengenai embun beku juga penting untuk meluruskan anggapan bahwa Dieng mengalami hujan salju. Salju terbentuk di dalam awan sebagai presipitasi yang kemudian jatuh ke permukaan bumi.
Sementara embun beku terbentuk langsung di permukaan benda akibat proses pembekuan ketika suhu mencapai titik tertentu.
Dengan memahami proses tersebut, masyarakat diharapkan tidak keliru menafsirkan fenomena yang terjadi.
Embun upas merupakan gejala alam yang telah lama menjadi bagian dari siklus musim kemarau di kawasan pegunungan Indonesia dan akan terus berulang ketika kondisi atmosfer mendukung pembentukannya.
Selama musim kemarau berlangsung, masyarakat yang beraktivitas di kawasan Dieng juga disarankan mengikuti informasi cuaca terbaru dari BMKG.
Selain membantu merencanakan aktivitas wisata, informasi tersebut penting bagi petani dan pelaku usaha lokal untuk mengantisipasi dampak suhu rendah terhadap kegiatan sehari-hari maupun kondisi tanaman pertanian.