INBERITA.COM, Bencana alam akibat cuaca ekstrem melanda Sumatera Utara pada Senin malam, 24 Agustus 2026.
Puting beliung menerjang Toba, longsor memutus akses jalan di Nias, dan banjir merendam ratusan rumah di Medan. Kondisi ekstrem ini menimbulkan kerugian material dan memaksa warga mengungsi.
Puting beliung di Kabupaten Toba merusak sembilan rumah warga di Desa Situa Tua, Kecamatan Sigumpar.
Angin kencang disertai hujan deras menyebabkan pohon tumbang dan atap rumah beterbangan. BPBD setempat segera melakukan asesmen dan pemotongan pohon untuk membersihkan area terdampak.
Sementara itu, di Kabupaten Nias, longsor sepanjang 15 meter memutus akses Jalan Dusun 1 Ndruri Gafia di Desa Lasara Tanoseo.
Intensitas hujan yang tinggi menjadi pemicu utama bencana ini. Dua unit rumah warga terancam longsor susulan, sehingga pihak berwenang mengimbau kewaspadaan ekstra.
Kota Medan juga tak luput dari bencana. Banjir melanda Kecamatan Medan Maimun, merendam 803 rumah dan memaksa 50 warga mengungsi.
Luapan Sungai Deli akibat debit air pegunungan yang meningkat menjadi penyebab utama. Kondisi ini membuat warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumut, Sri Wahyuni, menjelaskan bahwa banjir di Medan terjadi tanpa disertai hujan lokal.
Air meluap dari sungai pada pukul 22.00 WIB dan surut pada pukul 03.30 WIB keesokan harinya. Ketinggian air mencapai 3 meter, menyebabkan kerugian material yang signifikan.
Warga Kelurahan Aur dan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun, menjadi korban utama banjir ini. Total 3.116 jiwa terdampak, meski tidak ada korban jiwa.
BPBD dan Pemkot Medan segera melakukan evakuasi dan penanganan darurat untuk memastikan keselamatan warga.
Kepala Lingkungan 9 Kelurahan Sei Mati, Rozy, mengungkapkan bahwa banjir terjadi akibat luapan Sungai Deli yang tiba-tiba. Air naik tanpa didahului hujan lokal, membuat warga terkejut.
Mereka terpaksa mengungsi ke ruko di depan Jalan Brigjen Katamso, membawa barang-barang penting termasuk sepeda motor.
Kondisi darurat ini menyulitkan warga, terutama dalam hal akses air bersih dan listrik. Anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak akibat mati lampu.
Meskipun banjir telah surut, tim BPBD masih bersiaga untuk memantau situasi dan membantu warga yang membutuhkan.
Pemerintah setempat terus melakukan perbaikan dan penanganan pascabencana. Di Nias, proses perbaikan jalan longsor masih berlangsung.
Sementara di Medan, koordinasi antara BPBD dan pemerintah kota terus dilakukan untuk memastikan tidak ada dampak lanjutan.
Bencana ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.
Kerjasama antara pemerintah dan warga menjadi kunci dalam mengatasi dampak bencana ini.