Bursa Memerah! IHSG Sempat Turun ke Level 5.966, Kondisi Disebut Mirip Awal Pandemi Covid

INBERITA.COM, Tekanan di pasar saham domestik kembali memunculkan kekhawatiran pelaku pasar setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam pada perdagangan Jumat pagi (22/5/2026).

Bahkan, indeks sempat kembali menyentuh level 5.000-an, posisi yang selama ini identik dengan masa krisis pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.

Sejak pembukaan perdagangan, tekanan jual langsung mendominasi mayoritas sektor saham.

Berdasarkan data perdagangan pagi, IHSG dibuka di zona merah pada level 6.065 sebelum terus melemah hingga berada di posisi 6.047 atau turun sekitar 47 poin setara 0,78 persen pada pukul 09.05 WIB.

Namun pelemahan tidak berhenti di situ. Indeks sempat menukik lebih dalam hingga menyentuh level terendah 5.966. Angka tersebut langsung memicu perhatian investor karena menjadi salah satu level psikologis penting yang lama tidak terlihat sejak gejolak besar akibat pandemi.

Nilai transaksi di awal perdagangan tercatat mencapai Rp 1,67 triliun dengan volume 3,60 miliar lembar saham yang diperdagangkan dalam lebih dari 178 ribu kali transaksi. Tekanan pasar terlihat cukup merata, tercermin dari dominasi saham yang bergerak melemah.

Sebanyak 418 saham tercatat turun, sementara hanya 129 saham yang menguat dan 155 saham bergerak stagnan. Situasi itu menunjukkan sentimen negatif masih membayangi pasar sejak sesi awal perdagangan.

Jika dilihat lebih luas, tekanan terhadap IHSG memang tidak terjadi hanya dalam sehari. Secara bulanan, indeks tercatat melemah sekitar 20 persen.

Dalam periode tiga bulan terakhir, penurunannya mencapai lebih dari 25 persen. Sementara sepanjang tahun 2026, IHSG telah terkoreksi lebih dari 30 persen.

Kondisi tersebut memunculkan kembali memori kolektif pelaku pasar terhadap gejolak yang terjadi pada awal pandemi COVID-19. Saat itu, pasar modal Indonesia mengalami tekanan luar biasa akibat ketidakpastian global dan kepanikan investor.

Pada 2 Maret 2020, ketika pemerintah mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia, IHSG langsung merespons negatif. Indeks ditutup melemah sekitar 91 poin ke level 5.361.

Tekanan semakin besar seiring bertambahnya jumlah kasus dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Hanya dalam hitungan hari, pasar saham mengalami aksi jual besar-besaran yang memicu volatilitas ekstrem.

Salah satu momen paling diingat pelaku pasar terjadi pada 9 Maret 2020 ketika IHSG anjlok sekitar 6,5 persen ke level 5.136. Penurunan sedalam itu tergolong langka dan biasanya hanya muncul saat terjadi krisis besar atau kepanikan pasar yang luar biasa.

Kondisi tersebut akhirnya memaksa regulator mengambil langkah darurat. Bursa Efek Indonesia kala itu menerapkan kebijakan penghentian sementara perdagangan atau trading halt untuk meredam kepanikan investor dan menjaga stabilitas pasar.

Kini, ketika IHSG kembali bergerak mendekati area 5.000, banyak investor mulai membandingkan situasi saat ini dengan tekanan yang pernah terjadi pada era pandemi. Meski penyebabnya berbeda, volatilitas tinggi kembali menjadi perhatian utama pasar.

Analis pasar modal menilai pelemahan tajam tahun ini dipengaruhi kombinasi berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, tekanan suku bunga tinggi, perlambatan pertumbuhan ekonomi, hingga keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang.

Di sisi lain, sentimen domestik juga ikut memengaruhi psikologi investor. Kekhawatiran terhadap perlambatan konsumsi, tekanan nilai tukar, dan menurunnya daya beli masyarakat dinilai membuat pasar lebih sensitif terhadap isu ekonomi maupun politik.

Meski begitu, sebagian analis mengingatkan bahwa kondisi saat ini belum tentu identik dengan krisis pandemi.

Pada masa COVID-19, pasar menghadapi situasi luar biasa karena aktivitas ekonomi dunia praktis berhenti dalam waktu singkat. Sementara saat ini tekanan lebih banyak dipicu faktor fundamental ekonomi dan sentimen global.

Namun, turunnya IHSG hingga kembali menyentuh level psikologis era pandemi tetap menjadi alarm penting bagi pelaku pasar dan regulator. Stabilitas pasar modal tidak hanya berkaitan dengan investasi, tetapi juga mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap kondisi ekonomi nasional.

Investor kini menunggu langkah lanjutan regulator dan respons pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

Selain itu, arah kebijakan bank sentral global dan perkembangan ekonomi internasional diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan IHSG dalam beberapa waktu ke depan.

Di tengah gejolak tersebut, pelaku pasar diingatkan untuk tetap berhati-hati dan tidak mengambil keputusan berdasarkan kepanikan sesaat. Volatilitas tinggi memang membuka risiko besar, tetapi juga sering menjadi periode yang menentukan arah baru pasar dalam jangka panjang.