Tue, 19 June 2018

Menkeu: Gempa Bumi Berpotensi Hilangkan PDB RI US$ 30 Miliar

 Indonesia dihadapkan pada berbagai bencana alam erupsi, mulai dari gempa bumi, erupsi gunung berapi, banjir, tanah longsor, dan lainnya pada akhir-akhir ini. Seringnya bencana alam terjadi bisa menghambat pertumbuhan ekonomi nasional bila tak segera teratasi.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan faktor geografis yang membuat Indonesia rawan bencana alam. Oleh sebab itu, pemerintah setiap tahun selalu memiliki anggaran darurat yang salah satu fungsinya untuk penanganan bencana alam.

Dia menyebutkan, ada risiko bila bencana alam tidak segera diatasi dengan cepat dan terencana. Seperti gempa bumi, risiko yang ditimbulkan cukup besar, yang bisa memengaruhi Gross Domestic Product (GDP) Indonesia.

“Perlu diketahui, akibat gempa bumi di Indonesia ini kita bisa berpotensi kehilangan GDP US$ 30 miliar atau sekitar 3 persen. Ini sangat signifikan dampaknya, makanya kita harus siapkan mengantisipasinya, kata Sri Mulyani di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Sri Mulyani mencontohkan, gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta pada 2006. Akibat bencana alam tersebut, Yogyakarta kehilangan 30 persen GDP daerahnya. Untuk memulihkan kondisi perekonomian Yogyakarta juga membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Jika dilihat dari indeks risiko bencana, kata Menkeu, Indonesia masuk dalam kategori tertinggi di dunia sebagai negara kepulauan. Setidaknya angka indeks tersebut mencapai 156,3 persen. Kita ingin turunkan angka indeks risiko bencana ini hingga 30 persen, dia menjelaskan.

Untuk itu, Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara setiap tahunnya memiliki anggaran spesifik untuk penanganan bencana yang bersifat darurat. Bila anggaran ini tidak ada, dikhawatirkan akan ada gangguan upaya pemerintahan dalam membangun ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setiap tahunnya.

Kirim Komentar